In Kronik

Artikel ini ditulis oleh B. J. Bertina, berasal dari buku beliau berjudul Film in opspraak (1950/1951) yang diterbitkan oleh de Koepel, Nijmegen. Bagian isi dari buku itu telah diterjemahkan dan dimuat berseri dalam majalah Aneka di tahun terbit VI tahun 1955. Nomor-nomor terbitannya: 9 (20 Mei 1955); 10 (1 Juni 1955); 11 (10 Juni 1955); 12 (20 Juni 1955); 13 (1 Juli 1955); 17 (10 Agustus 1955); 19 (1 September 1955); 20 (10 September 1955); 21 (20 September 1955); 22 (1 Oktober 1955); 23 (10 Oktober 1955); 24 (20 Oktober 1955); 25 (1 November 1955); 26 (10 November 1955).

Jurnal Footage memuat kembali artikel ini dalam tajuk khusus “Sejarah Film Sebagai Seni”, untuk melihat bagaimana kritisisme perfilman pada masa itu membingkai sinema, baik dari segi estetika maupun konteks isu (sosial, budaya, ekonomi, dan politik)-nya. Arsip artikel dari Aneka ini menunjukkan bahwa perhatian para pengamat, serta arah kebijakan redaksi dari media massa yang bersangkutan, terhadap film terbilang kritis menanggapi fenomena industri; mereka mencoba mencari jalan bagi masuknya argumentasi seni untuk melihat film sebagai produk pengetahuan.

Silakan tinjau di bagian paling bawah halaman artikel ini untuk tautan artikel-artikel lainnya dalam seri Kronik “Sejarah Film Sebagai Seni”, atau bisa juga mengklik tautan berikut ini.

Selamat membaca!

DI ANTARA 35 orang hadirin yang datang menonton pertunjukan pertama dalam bioskop primitif dari dua bersaudara Lumiére, ada seorang pemuda yang hampir-hampir tak sabar menanti lampu-lampu dinyalakan kembali dalam ruangan café Boulevard des Capucines di Paris. Setelah ruangan itu menyala, pemuda itu lari menemui Louis Lumiére dengan pertanyaan, apakah ia mau menjual barangnya. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 28 Desember 1895 dan pemuda yang tak sabar itu adalah Georges Méliès, direktur pemilik kabaret dan sebuah café-chantant berusia 34 tahun, yang sering membuat kagum para penonton dengan pertunjukan-pertunjukan fantasmagoris (fantastik) dengan maksud supaya penonton terheran-heran. Dua bersaudara Lumiére sedikit pun tidak mengerti mengapa pemuda itu demikian antusias lantaran temuannya dan mengapa pemuda itu berani menawarkan uang begitu banyak, padahal menurut mereka hanyalah “penemuan ilmu pengetahuan yang sederhana”. Louis Lumiére mencoba meredakan kegirangan calon pengusaha film itu. Ditepuk bahu pemuda itu seraya berkata: “Bung, lebih baik pakai uang itu untuk keperluan lain, sebab menurut saya ini hanya akan membuat kau miskin kelak.”

Hotel tempat film publik pertama diputar oleh Auguste dan Louis Lumière pada tahun 1895; 16, boulevard des Capucines, Paris. (Sumber: Domain Publik, via Wikimedia Commons).

Méliès yang mula-mula bekerja sebagai tukang kayu, pelukis, pemain sandiwara, ilustrator majalah, tukang sulap, pengarang skets, tukang listrik, dan dekorator, tidak berhenti berusaha sebelum ia sendiri memiliki suatu perusahaan kecil yang sanggup membuat dan mempertunjukkan film. Sebab, sejak pertama kali ia mengenal film-film primitif buatan Lumiére itu, tampak olehnya kemungkinan-kemungkinan teknis atas alat pernyataan baru itu. Sewaktu ia berada dalam ruang pertunjukan di Boulevard des Capucines, telah bersinar-sinar cahaya di kejauhan pada matanya, suatu dunia seribu satu malam. Dan karena ia telah terpesona oleh khayal itu maka sepanjang hidupnya ia mencurahkan perhatiannya kepada film. Di tahun 1896, ia mulai dengan filmnya yang masyhur dan penuh dengan kecerdikan itu di studionya di Montreuil-sous-Bois. Mula-mula, ia puas dengan ia sendiri yang bermain, yang dipertunjukkan di teaternya sendiri. Tetapi kebetulan diketahuinya, bahwa di layar putih sebuah mobil berjalan cepat yang tiba-tiba dapat diubah menjadi suatu rombongan mobil pengantar mayat, maka kemungkinan-kemungkinan pun terbuka! Dan stop-crank [pedal pengendali perputaran film—red.] ini pun (yakin suatu istilah teknis untuk kenyataan ini) berkali-kali digunakan Méliès dalam berbagai variasi. Selain dari itu, diketahuinya seorang pemain dapat dipertunjukkan berkali-kali dengan serentak di atas layar putih. Ia mengadakan percobaan dengan pertukaran gambar dan dengan rekaman yang dipotong-potong.

Georges Méliès (1861-1938), French filmmaker and cinematographer. (Sumber: Domain Publik, via Wikimedia Commons).

Dipakainya cara membuat gambar yang menghilang dan bertukar dengan gambar lain, dan dalam makmalnya [laboratorium—red.] ditemuinya kemungkinan “menempelkan” sebagian dari rekaman lain. Pun rekaman lambat dan rekaman cepat dicobanya. Pendek kata, segala mukjizat teknik yang bagi seorang ahli film hanya suatu kenyataan yang sulit atau kurang sulit, tetapi bagi penonton merupakan suatu dunia baru yang kini karena ketelitian zaman sekarang tidak lagi kelihatan ganjil dan karena terbiasa menjadikan hal itu tidak ajaib lagi. Dapat dikatakan, Méliès sanggup menciptakan segala macam [ilusi] dengan kameranya. Antara lain, suatu gejala yang khas: model rumah, kapal dan kendaraan yang direkam kamera, pada proyeksinya seolah-olah terlihat seperti dalam keadaan yang nyata. Kemungkinan ini oleh Méliès dipergunakan sebaik-baiknya untuk membuat filmnya yang termasyhur dan ternama “Perjalanan ke bulan” [Le voyage dans la Lune (atau A Trip to the Moon), 1902—red.]. Dalam film itu, seakan-akan pemandangan-pemandangan alam di bulan benar-benar demikian. Memang Méliès pelopor yang pertama dalam mempergunakan teknik film. Georges Méliès seorang jenius. Ia jauh mendahului waktu. Segala keperluan dibuatnya sendiri. Ia membuat alat-alat untuk skenarionya yang fantastis itu. Ia sendiri sutradara dan ia pun menjadi pelaku utama dalam film-filmnya, mengawasi tukang kamera dan mewarnai film-filmnya dengan tangan. Akan tetapi, karena Perang Dunia Pertama tahun 1914, ia tutup perusahaannya, karena ia tidak bermaksud menjadi saudagar. Di New York, film-filmnya itu—600 buah banyaknya—diselidiki orang dan sebagian ditiru. Tetapi penciptaannya dilupakan! Sampai tahun 1928, ia ditemui seorang jurnalis Prancis di sebuah kios di Paris, di mana ia menjual mainan anak-anak, gula-gula, dan rokok. Untunglah ia masih ada waktu untuk menerima bintang Légion d’Honneur dari pemerintah Prancis dan hunian cuma-cuma di rumah seniman-seniman yang sudah tua sebelum ia meninggal pada tahun 1938, setelah lebih dari 20 tahun ia menumpahkan tenaga dalam lapangan film. Ketiadaan Méliès akan berarti ketiadaan seni film. Sebab, orang yang sangat aktif itu dengan alat-alat teknisnya sudah menyatakan dengan pasti bahwa gambar hidup terkadang tidak harus terikat pada reproduksi foto. Akan tetapi, memberi ruang permainan fantasi dan angan-angan si pencipta yang bergerak di bawah pimpinannya. Akan tetapi, masih lama sebelum orang mengerti pelajaran-pelajaran Georges Méliès (kecuali waktu yang pendek itu, ketika film-film Amerika yang bercorak gag [komedi] mendapat sambutan hangat). Sebab dari segala penjuru muncul cerita-cerita yang menyerupai sandiwara tentang pembunuhan, kesetiaan, dan tidak kesetiaan.

Comédie-Française, akhir abad ke-18. (Sumber: Domain Publik, via Wikimedia Commons).

Dua bersaudara Lumiére mengundurkan diri dari perusahaan mereka di tahun 1900, sebab menurut pandangan mereka “sinematografi bertambah lama bertambah condong ke arah sandiwara.” Apakah terutama isi film-film Eropa yang pertama di sekitar tahun 1900 di waktu bioskop-bioskop tumbuh sebagai cendawan dan sebagai akibatnya didirikan perusahaan-perusahaan film pertama? Selain daripada kegirangan kekanak-kanakan dalam mendapatkan alat-alat baru itu dan dapat menguasai hukum gaya berat, maka jenis film yang pertama ialah bersifat lucu. Orang sangat suka membuat film-film yang lucu dan bercorak sandiwara. Pokok dasarnya diletakkan pada pelaku yang tidak tentu wataknya dalam cerita yang sederhana. Dua bersaudara Lumiére telah mulai dengan film lucu yang pertama: L’Arroseur Arrosé [pertama kali tayang pada 10 Juni 1895—red.]: beberapa rekaman dari seorang yang disemprot dengan air. Di tahun 1904, di Prancis, orang mempertunjukkan Gabriel Deville, seorang badut memakai topi tinggi, tongkat, dan baju hitam panjang. Ia main film dengan nama Max Linder [1883-1925—red], dan permainan itu kelak disempurnakan Chaplin. Max Linder adalah orang besar di bidangnya. Terbukti dari banyaknya pengikut untuk tetap berperangai “tuan” dalam keadaan apa pun. Dengan demikian, film itu telah menyimpang ke arah sandiwara, kendati Méliès telah menunjukkan kemungkinan-kemungkinan lain. Seluruh gejala itu masih bersuasana pasar malam yang banyak mempertunjukkan film yang bagus, akan tetapi tidak sungguh-sungguh menarik perhatian orang. Baru negeri kelahirannya sendiri, Prancis, dengan samar-samar orang melihat kemungkinan-kemungkinan lain atas tugas film yang sebenarnya. Untuk pertama kali orang memperkosa film. Anak pungut pasar malam [film] itu hendak dijadikan anak angkat dan hendak dididik menjadi Seni Besar. Sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman kenamaan hendak melindungi film. Comédie Française [akademi teater yang didirikan 24 Agustus 1680 oleh Louis XIV—red.] turun dari tahtanya, anggota-anggotanya mengadakan propaganda untuk ide-idenya, mengawinkan film di mimbar sandiwara. Anak pasar malam itu diberikan hunian di suatu yayasan yang mempunyai nama harum “La Société du Film d’Art”. L’Académie française [berdiri sejak 1635—red.] juga memberikan perlindungan, dan hubungan antara film dan seni pun terbentuk dan dianggap sah. Sebagai sutradara, menceburkan dirilah Henri Lavedan [sutradara teater. 1859-1940—red.], Le Bargy [Charles Gustave Auguste le Bargy (1858-1936)—red.], dan Louis Mercanton [1879-1932—red.]. Lakon-lakon sandiwara dari opera besar diputar di layar putih dan para intelektual yang diundang tercengang melihat cerita-cerita seperti: “Phadra”, “Pembunuhan Pangeran Guise” [L’Assassinat du duc de Guise (1908), disutradarai Charles Gustave Auguste le Bargy dan André Calmettes. Ditulis oleh Henri Lavedan—red.], “Kembalinya Ulysses” [Le retour d’Ulysse (1909), disutradarai Charles Gustave Auguste le Bargy dan André Calmettes—red.], “Wanita dengan bunga camellia” [La dame aux camélias disutradarai Louis Mercanton—red.] dan di tahun 1911 dipertunjukkan “Ratu Elisabeth” [Les amours de la reine Élisabeth yang disutradarai Henri Desfontaines dan Louis Mercanton—red.] dengan Sarah Bernard yang menjadi peran utamanya. Para penonton melihat yang hanya disukainya, tetapi tidak dengan dialog. Daya dramatis bintang-bintang film yang disukai menjadi kesedihan yang mengganggu. Apakah ini seni, kalau seniman-seniman kata menjadi bisu? Dunia intelektual menjadi kecewa, melihat film dengan nama-nama besar. Film dikembalikan kepada rakyat jelata di pasar malam dan di bioskop-bioskop gelap di Eropa, sedangkan film itu dimulai dengan susah-payah. Penonton-penonton yang datang berduyun-duyun adalah dari masyarakat yang paling rendah. Keadaan-keadaan sosial pada waktu itu tidak dapat dikatakan sempurna. Bagi orang-orang miskin, bioskop-bioskop merupakan tempat untuk melupakan kepahitan hidup dan bercengkrama dalam angan-angan sedap. Bioskop memberikan romantik jelek pada orang-orang biasa dan memberi mereka bayangan salah dari kehidupan, juga ia ingin dari masyarakatnya sendiri. Anak-anak kaum buruh juga melihat bioskop itu dengan beberapa sen dari orang tuanya mendapat kesan yang jelas, yakni perbedaan besar antara rumah-rumah yang indah dengan pakaian-pakaian yang bagus dalam film itu dengan kemiskinan mereka. Maka kesadaran sosial mereka turut “dibentuk” oleh film dengan jalan yang rendah dan palsu. Demikianlah keadaan di waktu itu, waktu film “seni” Eropa yang pertama menemui kegagalan, George Méliès dipandang seorang badut; dan di Amerika seorang yang bernama David W. Griffith melihat kemungkinan-kemungkinan baru. *

Baca Semua Kumpulan Kronik “Sejarah Film Sebagai Seni”

Recommended Posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Start typing and press Enter to search