In Kronik

Kronik edisi ini mengangkat sebuah ulasan film Rashomon (Akira Kurosawa, 1950) yang ditulis oleh Muhammad Salim Balfas, atau lebih dikenal dengan nama M. Balfas. Rashomon memenangi penghargaan Film Berbahasa Asing terbaik pada ajang penghargaan Academy Award tahun 1952. Melalui penelusuran arsip yang kami lakukan, Rashomon pernah ditayangkan di Jakarta di bioskop Menteng Globe pada pertengahan bulan Desember tahun 1953.  Ada kemungkinan M. Balfas menyaksikan Rashomon pada saat rangkaian penayangan tersebut, mengingat jarak antara pemutaran dan tulisannya tidak terlampau jauh.

Ada beberapa penyesuaian yang dilakukan redaksi terhadap tulisan ini. Judul film di naskah asli tertulis Rasho-mon, yang mungkin saja, merujuk pada judul di publikasi film tersebut di Indonesia. Judul bahasa Inggris karya Ryūnosuke Akutagawa dituliskan oleh M. Belfas sebagai In The Bush, kami tuliskan kembali dengan judul In The Grove, merujuk pada versi penerjemahan yang dilakukan Howard Hibbett. Juga penyesuaian terhadap EYD yang dipakai saat ini.

Selamat membaca!

Naskah Ryūnosuke Akutagawa In The Grove (Dalam Semak, 1922) adalah kisah psikologi semata mengenai suatu peristiwa pembunuhan. Hembusan angin kecil yang sial telah menggeserkan lekung sutera seorang wanita yang sedang duduk di atas kudanya, sehingga kecantikan paras mukanya menimbulkan rangsang pada penyamun Tajômaru yang kemudian bangkit nafsunya untuk memiliki perempuan itu. Suaminya seorang bangsawan berjalan di sisinya. Akhir cerita, perempuan itu dapat diperkosa dan suaminya lalu dibunuh.

Lukisan Akutagawa adalah lukisan penyaksian tujuh orang. Si penebang kayu menyaksikan mayat si korban dan menemukan seutas tali, sebuah sisir dan tudung. Si pendeta Buddha menyatakan cuma mengenal si korban itu sebagai seorang suami yang hidup rukun dengan istrinya. Mertua si korban mengenali mayat itu sebagai mayat mantunya yang baik. Agen polisi menceritakan penangkapan Tajômaru. Dan ketiga orang lainnya (si penyamun, si isteri dan si korban yang diminta keterangannya melalui medium) memberikan keterangan yang satu sama lain bertentangan.

Publikasi penayangan Rashomon di harian Java-bode,12-12-1953.

Indah sekali Akutagawa melukiskan permainan psikologi ini dengan tidak memberi jawab pada misteri pembunuhan itu. Diserahkan pada pembacanya sendiri untuk mencarinya. Sebagai hasil sastra kekurangan ini tidaklah menjadi suatu keberatan, malah meningkatkan mutunya sebagai bentuk puisi.

Akutagawa jadinya cuma sampai pada suatu tragis: si mati pun tidak mau bercerita lurus.

Tetapi dengan membatasi diri demikian si pengarang pun tidak sampai menjawab pertanyaan yang dengan tenaga sendiri bisa meloncat dari tragis ceritanya: Di mana lagi martabat manusia kalau roh pun berdusta?

Rashomon

Dari pertanyaan inilah Akira Kurosawa memulai dramatik filmnya, sebuah pertanyaan yang cukup kuat untuk meminta perhatian kita seluruhnya. Pertanyaan yang mengerikan ini disuruh ucapkan oleh pendeta Buddha. Di samping pendeta itu duduk si penebang kayu. Indah sekali permainan yang ditunjukkan oleh kedua orang ini: Muka si pendeta yang mendalam suramnya dan paras si penebang kayu yang lebih banyak tampak gelisah dari masgul. Hujan dan gapura memberikan lukisan baik pada suasana yang muram dan tegang ini.

Sebagai lawan si pendeta alim yang serba percaya itu, dimasukan ke dalam scene percakapan pada waktu hujan, satu tokoh watak lain, manusia jembel yang keras, yang kepercayaan kepada manusia sudah tidak ada sama sekali. Ceritanya adalah lukisan psikologi Akutagawa, dengan menghilangkan peranan si mertua yang memang tidak penting itu dan untuk menggantikan komisaris polisi yang menerima penyaksian, setiap pelaku dihadapkan kepada publik. Memasukan penonton kepada suasana menerima penyaksian ini adalah suatu penemuan yang baik sekali (sebab di akhir cerita dari kita (penonton) diharapkan juga untuk banyak menunjukan pengertian kepada sesama manusia).

Rashomon (Akira Kurosawa, 1950).

Karena manusia kasar itu dengan tandas menolak juga keterangan si mati, maka si penebang kayu akhirnya terdesak sama-sekali untuk membuka suara hatinya yang sebenarnya. Penyaksiannya si penebang kayu yang akhir ini adalah jawaban pada akhir cerita In the Grove yang ditinggalkan si pengarangnya.

Satu langkah lagi, ketika Rashomon sampai pada kunci dramatiknya, sampailah juga kita pada pikiran dasar si pengarang, bahwa ia bertolak dari pandangan hidup agama Buddha yang menyatakan bahwa ke-aku-an pada manusia itu adalah pangkal derita dan manusia yang terikat oleh ke-aku-annya adalah manusia pengecut, lemat dan tradisinya kerenanya juga jadi palsu.

Si penyamun yang buas itu ternyata adalah seorang pengecut untuk mempertaruhkan nyawanya. Tetapi oleh ke-aku-annya yang besar itu dia melukiskan dirinya dalam kesaksiannya, sebagai orang yang gagah perkasa.

Si suami bangsawan itu ternyata juga mau bertameng pada tradisi untuk menyembunyikan kelemahannya sendiri. Untuk menyelamatkan diri ia tuduh saja istrinya sebagai orang yang tidak berharga dibela karena tidak melakukan hara-kiri setelah kehormatannya tercemar. Selama bertanding keduanya adalah orang-orang pengecut semata sampai bertanding adalah sifat-sifat kesombongan mereka yang palsu belaka.

Rashomon (Akira Kurosawa, 1950).

Si isteri adalah lukisan kelemahan wanita. Demikianlah manusia itu lemah, pengecut dan sombong dan pendusta. Berhaklah si pendeta itu menyangsikan martabat manusia. Syukur Akira (Kurosawa) membuat jalan lepas dari ini keruntuhan. Sekiranya tidak, maka si pendeta itu akan kehilangan sama-sekali tugasnya dan kehadirannya di dunia ini juga akan palsu belaka.

Karena itu kepercayaan kepada manusia haruslah dikembalikan. Si orok (bayi) yang menjadi perlambang kelanjutan hidup ini dapat dipercayakan oleh pendeta itu kepada penebang kayu, berkat pengakuan penyesalannya.

Dramatik ini dimainkan dengan indah sekali oleh si penebang kayu dan si rakyat jelata yang keras itu. Dua manusia yang berdiri setara, keduanya sama terikat oleh ke-aku-an masing-masing, tetapi akhirnya oleh kesadaran si penebang kayu retaklah ukuran taraf tadi. Yang seorang hilang bagi martabat manusia dan si penebang kayu balik kepada si pendeta untuk menerimakan kepercayaan bagi kelanjutan hidup manusia.

Tradisi yang Tidak Pecah

Biar bagaimana juga kerasnya penolakan terhadap tradisi itu sebagai nilai yang palsu, namun tradisi itu sendiri tidak sampai terganggu. Ia masih utuh sebagai barang yang tidak berharga. Si bangsawan mau menuntut tradisi harakiri dan istrinya sekedar sebagai tempat mengumpat kelemahan diri.

Rashomon (Akira Kurosawa, 1950).

Lukisan si istri juga sudah sampai pada lukisan sifat-sifat perempuan yang asli, makluk lemah yang memang sedia ditaklukan laki-laki.

Wanita itu sudah ditolak, baik oleh suaminya, maupun oleh penyamun itu. Sekiranya di sini dicari pemecahan masalah dan bukan keagamaan yang utama, maka tradisi yang palsu itu bisa jadi pecah. Dengan begitu bisa lahirlah dunia baru bagi wanita itu.

Baik si suami dan si istri masing-masing akan membawa potongan-potongan tradisi yang sudah koyak-koyak. Kalau pada suatu waktu ketiga orang itu bertemu lagi, maka nilai si istri ini tidak lagi terletak dalam kegagahannya menyelamatkan tubuh kewanitaannya saja, dan dia juga akan memaksa pula suaminya untuk memakai ukuran-ukuran lain untuk menilai dirinya.

Di sinilah letak kelemahan cerita Akutagawa sampai dia bisa mendapatkan cekaman, bahwa latar belakang ceritanya kurang adanya penghargaan terhadap wanita.

Tetapi memang bukan ini yang dikehendakinya.

Tetapi walaupun demikian sebagai film, Rashomon dapat menarik perhatian kita untuk sejam lamanya dengan keindahan fotografi dan permainannya. *

Recommended Posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Start typing and press Enter to search