In Artikel
[tab] [tab_item title=”ID”]

Karya video Bilal (2006) merupakan karya pertama dan penting dari Bagasworo Aryaningtyas. Karya ini juga seakan menjadi penegasan identitas Bagasworo sebagai punker sejati. Karya-karya lanjutannya seperti Memanjakan Tubuh (2007) dan Lingkaran X (2008) masih memainkan bentuk-bentuk eksterior dari sebuah identitas. Meski demikian,Bilal dapat dijadikan acuan untuk menganalisa kondisi dunia kekinian.

Melihat Bilal mengumandangkan azan dalam balutan pakaian dan gaya rambut punk bagi saya merujuk ke arah-arah yang saling bertentangan. Arah pertama dari karya video ini adalah kesengajaan untuk membalikkan pemahaman tradisional muslim tentang cara berpakaian seorang muazin. Sutradaranya seakan ingin menegaskan bahwa ciri-ciri berpakaian seseorang tidak lantas melekatkannya dengan ideologi atau kelompok tertentu. Anak punk yang menjadi muazin bisa jadi merupakan suatu kontradiksi, sebab dalam keyakinan Islam tradisional, Bilal adalah seorang yang berpakaian baik, dalam arti tidak serampangan, apalagi dengan rambut bergaya jengger ayam.

Dalam sejarah Islam, Bilal merupakan muazin pertama yang menciptakan lirik panggilan bagi kaum muslim untuk sembahyang. Bilal hadir menawarkan suara manusia sebagai panggilan sembahyang kaum muslim untuk membedakan panggilan-panggilan beribadah yang sudah dilakukan oleh pengikut agama lain seperti dengan lonceng untuk gereja kaum Kristen. Pada saat berdebat mengenai panggilan sembahyang, salah seorang pengikut mengusulkan suara tambur, namun usulan itu langsung ditentang oleh Hamzah, pengikut setia dan juga salah satu paman nabi Islam, karena suara tersebut begitu identik dengan darah dan perang. Suara manusia sebagai bentuk panggilan sembahyang kaum muslim, dalam konteks itu, menjadi sebuah panggilan bagi perdamaian. Sejak Bilal mengumandangkan azan, sejak itu pula azan ditetapkan sebagai panggilan khas bagi kaum muslim untuk melakukan ibadahnya. Lirik-lirik azan sendiri tidaklah sesuatu yang sudah dipersiapkan sebelumnya, melainkan hadir saat itu dan digunakan sampai sekarang. Jika Bilal diidentikkan dengan anak lelaki berpeci yang santun dan memiliki suara indah dalam pemahaman Islam tradisional, maka dalam karya video ini, Bilal menjadi seorang anak muda bergaya pakaian bebas dan cenderung menentang pemahaman-pemahaman konvensional.

Bilal03

Arah kedua adalah keselarasan kontekstual antara identitas punk dan identitas keagamaan kontemporer. Bilal versi punk Bagasworo bisa dikatakan sangat selaras dengan kondisi pemahaman keislaman di dunia sekarang ini. Di masa kelahirannya, ideologi punk merupakan sistem pemikiran distingtif yang berhubungan dengan subkultur punk di akhir 1970an. Awalnya punk merupakan sebuah gerakan kekecewaan, pemberontakan dan ketidakpuasan, kemudian berkembang menjadi gerakan sosial-politik. Kelompok musik seperti Black Flag, Dead Kennedys, Bad Religion, Anti-Flag, Conflict, The Blood dan Subhumans cukup banyak memberi kontribusi pada iklim ideologis ini. Ketidakpuasan terhadap sistem dan tawaran solusi pada masalah-masalah dunia sering disuarakan mereka melalui musik. Semangat ini masih aktif dan berkembang sampai sekarang.

SkrewdriverPatch

Lewat kelompok-kelompok musik tadi, ideologi politik punk sering diasosiasikan dengan anarkisme. Seiring perkembangan, ideologi-ideologi lainnya seperti pembebasan, kiri-liberal, sosialis, komunis-anarkis dan bahkan neo-Nazi, begitu lekat dengan punk. Dan, di antara sekian banyak ideologi punk, yang paling berbeda adalah ideologi neo-Nazi, karena sangat identik dengan kekerasan dan fasisme. Ideologi neo-Nazi ini dipopulerkan oleh kelompok musik seperti Skrewdriver, Ad Hominem, Aryan Terrorism, Bound for Glory, Brigada NS, Jew Slaughter, Final Solution, White Law dan Infernum. Mereka menjadi bagian dari kelompok anti komunis, yang dikenal sebagai kelompok Nazi Punks dan Rock Against Communism, kelompok-kelompok punk yang sangat nasionalistik dan anti komunis. Mereka punya slogan “Punk’s Not Red”, sebuah permainan dari slogan “Punk’s Not Dead”, yang memiliki hubungan kuat dengan Nazi Skinheads, kelompok fasis dan rasis yang merupakan simbol kebangkitan kembali Nazisme anti-semit. Pada 1980an, kelompok-kelompok punk nasionalistik ini sering kali menyuarakan protes atas otoritas Soviet yang anti-nasionalisme, patriotisme dan jingoisme.

Jika ideologi punk dalam karya video Bilal harus dikaitkan dengan kekerasan agama, maka kita bisa merujuknya ke situasi politik dunia kontemporer. Pasca peristiwa 11 September 2001, hampir seluruh dunia mengalami demam kekerasan berlabelkan agama. Fasisme keagamaan dianggap oleh sebagian orang sebagai konsekuensi dari perlakuan tidak adil dunia barat terhadap dunia ketiga, khususnya dunia Islam. Bagaimanapun, aksi ini jelas menjadi tonggak baru peningkatan kekerasan dalam agama. Meski demikian, radikalisme dan fundamentalisme keagamaan menjadi fenomena umum di seluruh dunia dan tidak hanya terjadi di dunia Timur, terutama Islam, melainkan juga terjadi di dunia Barat-Kristen.

Ad_Hominem_logo

Merujuk Karen Armstrong, banyak masyarakat barat yang dididik secara rasional, yang tidak dipersiapkan bagi ritual mistis dan mitis, ternyata ingin kembali kepada nilai-nilai transenden di masa lampau. Untuk kembali ke masa lampau adalah tidak mungkin, maka satu-satunya cara adalah menghidupkan nilai-nilai lama ke masa sekarang, yaitu dengan melakukan ritual dan tindakan-tindakan menolak berbagai hal yang bertentangan dengan keyakinan. Kekerasan menjadi pilihan utamanya. Armstrong lalu menunjukkan perkembangan gerakan radikalisme dan fundamentalisme di dunia Kristen-Barat. Setelah itu, ia kemudian memusatkan perhatian ke dunia agama-agama Timur seperti Islam dan Yahudi. Menurutnya, peningkatan radikalisasi dan bahkan fundamentalisasi tidak hanya terjadi di dunia Islam dengan ideologi jihad yang dimilikinya, melainkan juga di kalangan Yahudi. Dengan basis ideologi yang sama-sama mengusung kekerasan itu, Islam dan Yahudi selalu terlibat pertikaian sampai sekarang.

Kecenderungan kekerasan ini pada gilirannya juga tidak bisa dilepaskan dengan meningkatnya gejala kebangkitan agama mulai dari Kristen, Yahudi, Islam, Hindu, Shintoisme dan lain-lain. Peningkatan fundamentalisme, menurut Armstrong, merupakan konsekuensi dari sebuah keyakinan penuh gejolak untuk berjuang demi kelangsungan hidup di dunia yang tidak ramah. Dan wajar saja, jika peningkatan fundamentalisme dalam agama-agama dunia ini meningkatkan juga skala kekerasan. Aksi kekerasan meningkat disebabkan semakin banyaknya orang yang berniat terlalu keras untuk memahami agamanya, kata Mark Juergensmeyer. Ia bahkan menegaskan, semakin orang berniat keras untuk memahami agamanya maka semakin radikal pula tindakannya.

goshow1
Suasana konser Gamelanoink di Acara Ulang Tahunnya ke-10. | Foto © www.jurnallica.com

Bilal dan Kritik Atas Fasisme Agama
Lalu, bagaimana membayangkan Bilal dengan citraan kekerasan dari suatu agama tertentu? Bagi saya, Bilal menjadi tanggapan unik atas peningkatan kekerasan yang dilakukan oleh pengikut agama Islam. Bila anak punk dalam karya video Bilal dikaitkan dengan ideologi neo-Nazi, kita akan menemukan bahwa karya ini merupakan kritik terhadap fasisme dan kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Karena yang disuarakannya azan, maka karya video ini mengusung label khas dari agama Islam, yang sejak peristiwa terorisme 11 September 2001 menjadi sorotan untuk berbagai tindak kekerasan mengatasnamakan agama di seluruh dunia.

Pada awalnya, punk merupakan gerakan pemberontakan terhadap sistem. Sebuah ideologi yang mengusung tema kebebasan di dalamnya. Namun, ketika punk dimasuki oleh kelompok-kelompok fasis, aura kebebasan yang diusungnya pun serta merta melesat ke udara. Bilal dalam citraan punk menjadi sebuah dilema antara ideologi kebebasan dan fasisme yang melekat pada gerakan-gerakannya. Punk dalam karya video Bilal menjadi sebuah kritik atas bentuk-bentuk kekerasan berlandaskan agama. Label-label kekerasan itu dikonstruksi sedemikian rupa dalam karya video ini, sehingga menghasilkan suatu kondensasi realitas dalam bentuk yang paling halus. Untuk menemukan citraan implisit yang dikandung karya video ini, kita tidak bisa melihat dengan sekilas pandang saja. Saat pertama menonton karya ini, kesan pertama adalah kesegaran dan gelak tawa karena kita berpikir bahwa hal seperti yang dilakukan dalam karya video Bilal merupakan sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Ketika memperhatikan lebih lanjut, saya berpikir bahwa sang sutradara cukup cermat dalam mengamati situasi dan kondisi politik dunia kontemporer. Ya, fakta memang tidak harus diungkapkan dalam bahasa verbal, sehingga kita tidak terjebak pada sebuah ‘kebenaran telanjang’ (bare truth). Untuk hal ini, saya pikir Bagasworo, sadar atau tidak, berhasil melakukannya. Melalui Bilal, Bagasworo berhasil menerapkan kritik jenius terhadap situasi politik dunia kontemporer yang dipenuhi oleh berbagai aksi kekerasan mengatasnamakan agama.


Tentang Video Bilal
Video Bilal berdurasi 3 menit 42 detik ini dibuat oleh Bagasworo Aryaningtyas pada April 2006. Karya ini pertama kali dipresentasikan di acara Parade Filem Video Forum Lenteng 2006, di Goethehaus Jakarta. Karya ini telah diputar diberbagai acara nasional maupun internasional, baik festival filem ataupun pameran seni rupa kontermporer (seni media) di beberapa negara. Di Indonesia, video ini dipresentasikan antara lain pada; Pameran Jakarta 32°C, Galeri Nasional Indonesia (2006); Jogja NETPAC Asian Film Festival (2006); À Courts d’écran #5, Pusat Kebudyaan Prancis (2007); Documentary Days Fakultas Ekonomi UI (2008); Konferensi Warisan Otoritarianisme, Demokrasi dan Tirani Modal (2008); dan beberapa presentasi berbagai workshop dan diskusi di berbagai daerah Indonesia. Presentasi internasional antara lain; Pameran NEW BEGINNER, TENT Center, Rotterdam (2006); 5ÈME FESTIVAL SIGNES DE NUIT, Paris, Prancis (2008); 37th INTERNATIONAL FILM FESTIVAL ROTTERDAM (2008); BOMBAY SAPPHIRE_ART PROJECTS, India (2008); The 55th International Short Film Festival Oberhausen, Jerman (2009). Finalis Indonesian Art Awards (2010).

Bagasworo Aryaningtyas

Tentang Pembuat Video
Bagasworo Aryaningtyas aka Chomenk lahir di Jakarta pada tahun 1983, menempuh pendidikan di jurusan Jurnalistik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta namun tidak selesai. Ia sangat menyukai dan mendengarkan musik punk dalam kesehariannya. Pada 2001 ia mendirikan Tanahijau bersama mahasiswa IISIP. Pada tahun 2003 bergabung dengan Forum Lenteng dan mulai memproduksi video. Selain membuat video, Chomenk juga membuat karya-karya fotografi bersama kawan-kawan Forum Lenteng. Penggemar motor ini cukup aktif berpameran bersama. Saat ini bekerja sebagai periset dan asisten Penelitian dan Pengembangan di Forum Lenteng, dan membantu Dewan Kesenian Jakarta pada proyek penelitian kritik seni rupa dalam sejarah perkembangan seni rupa di Indonesia.

[/tab_item] [tab_item title=”EN”] (Temporarily available only in Bahasa Indonesia)
[/tab_item] [/tab]
Recent Posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Start typing and press Enter to search