In Artikel
[tab] [tab_item title=”ID”] Lastlaughposterreview_derletztemann12779_DER-LETZTE-MANN-6

Pada sebuah adegan, seorang doorman berada di depan pintu hotel mewah, dengan wajahnya yang berwibawa selalu siap melayani para tamu. Ia begitu ramah di tengah lalu lalang kesibukan para tamu hotel. Suatu ketika, dua orang perempuan keluar dari pintu hotel. Namun suasana agak hujan ketika mereka ingin memanggil taksi. Kemudian kedua perempuan tersebut terpaksa menghindari hujan, dan mereka pun kembali ke depan hotel untuk berteduh. Sang doorman yang selalu bersimpati pada tamu hotel datang membantu memanggilkan taksi untuk kedua perempuan tersebut. Dengan sikap santunnya ia mempersilahkan kedua perempuan menuju taksi sambil membukakan payung kepada mereka. Kedua perempuan tersebut menyambut keramahan sang doorman dengan menggandeng tangannya. Mereka nampak senang dengan pelayanan sang doorman. Tiba-tiba seorang pria dari tamu hotel pun datang ikut serta menaiki taksi, dan sang doorman dengan elegan mempersilahkan pria tersebut menaiki taksi. Sang pria itu pun membalas pelayanan sang doorman tidak kalah elegan. Semua adegan tersebut divisualisasikan pada masa sinema bisu. Namun sebuah penanda dan gagasan tentang kewibawaan dan karisma seorang ‘doorman’ bisa tertangkap dalam adegan tersebut tanpa teks penjelas, apalagi teks dialog seperti yang biasa dilakukan oleh sinema bisu pada umumnya. Inilah satu kekuatan sinema bisu oleh Murnau dalam karya Der Letzte Mann (edisi Amerikanya berjudul, The Last Laugh) pada tahun 1924. Sebuah usaha oleh Friedrich Wlihelm Murnau, di mana sinema berusaha mengambil kemandiriannya dari pengaruh teater yang memang subur digunakan sebagai elemen filem pada masa itu. Kesejajaran dua karakter yang berbeda dalam satu visual, menjadi kekuatan gambar Murnau. Sang doorman dengan dua perempuan kaya, keramahan sang doorman dan lalu lalang kesibukan para tamu hotel merupakan siasat-siasat Murnau dalam mengeleminir penggunaan teks pada sinema bisu.

Apa yang sedang dilakukan Murnau dalam Der Letzte Mann adalah konsistensinya ketika ia mendiktumkan kemandirian visual dengan cara menunjukkan dua gagasan antagonisitik secara pararel.

023_der_letzte_mann_cover_l-2

Era sinema bisu sebagai konteks dialektika visual di mana Der Letzte Mann dibuat, benar-benar menghindari teks penjelas dari adegan-adegan yang terdapat pada gambar. Seperti pada sinema bisu pada umumnya, seringkali teks masih mengintervensi sebagai penjelas adegan, atau sebagai penjelas dialog dari sang tokoh. Dalam Der Letzte Mann Murnau sangat memanfaatkan karakter tokoh serta penggambaran latar secara visual sebagai kekuatan sinema yang mandiri. Satu di antara kemandirian visual yang dibangun oleh Murnau bisa kita lihat pada penggambaran sang doorman sebagai individu yang sangat dihormati di lingkungan tempat ia tinggal, serta memiliki wibawa tinggi di hadapan masyarakat. Gagasan tentang karakter sang doorman tersebut tertuang pada adegan ketika ia pulang ke rumahnya sekembali dari kerja. Latar tempat tinggal sang doorman dilakukan oleh Murnau dengan baik melalui visualisasi tentang kehidupan kelas bawah pada sebuah kota. Latar tempat tinggal sang doorman dengan flat-flat kecil dan lingkungan masyarakat bawah yang kumuh ditampilkan dengan ambilan kamera lebar, dengan adegan beberapa warga yang sedang melakukan aktifitas di lingkungan kumuh tersebut. Murnau memanfaatkan karakter tokoh dengan menampilkan busana sang doorman yang memakai seragam kerjanya, di mana sang tokoh sangat membanggakan seragam tersebut. Seragam doorman benar-benar dimanfaatkan oleh Murnau sebagai kekuatan karakter bahkan sebagai kekuatan kisah dari Der Letzte Mann ini. Kontras antara gagasan latar ruang lingkungan rumah kumuh di mana sang doorman tinggal, serta karakter seragam yang selalu digunakan oleh sang doorman, menegaskan sebuah simbolisasi dari karakter. Sehingga visual memiliki kekuatan berbicara secara mandiri, dengan menampilkan karakter adegan tokoh sang doorman, seragam doorman serta latar ruang yang kontras dengan simbolisasi tokoh yang tampil elegan dan berwibawa dengan memakai seragam serta kemampuan aktingnya.

Akting Emil Jannings yang memerankan doorman, cukup menciptakan adegan situasi yang menonjolkan karakternya sebagai tokoh yang penuh harga diri, serta kondisi psikologis sang tokoh yang kehilangan identitas. Dalam beberapa ambilan kamera, nampak pada salah satu adegannya, sang doorman dianggap oleh bos hotel sudah terlalu tua untuk bertugas menjaga pintu hotel, dan ia dipindahtugaskan sebagai janitor hotel. Adegan dimulai dengan pengambilan kamera pada sisi luar ruang kantor bos pemilik hotel. Dari kaca pintu tampak sang doorman sedang membaca surat pemindahan tugasnya, kemudian kamera bergerak mendekat sang doorman. Pergerakannya menembus kaca pintu kemudian mendekat dan berhenti pada ambilan dekat, yang terfokus pada wajah sang doorman. Teknik pergerakan kamera tersebut menjadi relevan ketika menciptakan suasana keterkejutan, dengan dampak karakter suasana psikilogis yang dihasilkan dari efek pergerakan kamera tersebut. Pengungkapan karakter psikologis sang tokoh melalui pergerakan kamera, menjadi sebuah usaha Murnau dalam konsistensinya terhadap kemandirian visual, sehingga sinema bisu tidak membutuhkan lagi semacam teks atau narasi penjelas pada tiap plotnya. Gaya pendekatan yang menekankan karakter psikologis adalah bentuk kammerspiel, yang merupakan sebuah gaya yang dipengaruhi oleh permainan teater ruangan (kamar drama), menekankan pada karakter psikologis. Dalam Der Letzte Mann, Murnau melakukannya dengan sangat baik. Apalagi hal kemandirian visual tersebut dilakukan dengan perpaduan karakter aktor, latar ruang, serta pergerakan kamera.

003eskwbjannings-last-laugh

Sebagai catatan, dalam Der Letze Mann, Murnau banyak melakukan temuan-temuan pergerakan kamera sebagai gaya dalam memvisualisasikan gagasan serta narasi dalam filem. Dengan sinematografer Karl Fruend, Der Letzte Mann banyak menemukan inovasi-inovasi pergerakan kamera di era sinema bisu. Bisa dilihat selain pada adegan awal, bagaimana pergerakan kamera dalam menarasikan suasana di dalam hotel bergerak ke arah suasana luar hotel melalui pintu berputar hotel. Ambilan-ambilan jauh kamera memperkuat citra tentang ruang yang menegaskan konteks sosial yang divisualisasikan dalam filem. Konsekuensinya, permainan cahaya dan latar ruang menjadi usaha dan intensitas yang tak terelakkan. Pada adegan-adegan di permukiman kumuh misalnya, permainan cahaya cukup kental dimanfaatkan untuk memvisualisasikan kondisi psikologis masyarakat suburban moderen. Meski D.W. Griffith memanfaatkan ambilan dekat (close up) sebagai kekuatan drama dalam bernarasi, Murnau justru memanfaatkan ambilan jauh untuk membentuk citra. Namun Murnau tampaknya tidak sedang membangun kekuatan citra pada ambilan jauh kamera seperti yang dilakukan Orson Welles beberapa puluh tahun kemudian. Murnau sedang membangun kekuatan psikologis pada citra visual dalam ambilan jauh kamera dengan memanfaatkan cahaya dan latar ruang.  Pada ambilan jauh kamera di adegan sang doorman sedang mengintip suasana di depan hotel dari lorong tepi gedung, nuansa psikologis dan karakter bisa lahir dengan keseimbangan permainan gelap terang pada latar ruang tengah kota yang megah. Narasi tentang kota moderen beserta moral panoptik bisa tertuang dengan perpaduan pencahayaan, latar ruang dan permainan mimik sang aktor. Bagi Murnau, selalu ada motif dan pemikiran di balik tindakan. Dalam Der Letzte Mann, selalu ada latar psikiologis untuk latar ruang dan pencahayaan di balik permainan sang aktor. Kontras permainan kewibawaan sang doorman yang bangga akan seragamnya, dengan latar ruang beserta cahaya hampir mewarnai banyak adegan dalam Der Letzte Mann ini.

Di filem ini, sesungguhnya Murnau sedang menarasikan sebuah entitias sosial politik Jerman, di mana simbolisme memiliki pengaruh besar terhadap politik. Masa-masa pasca Perang Dunia pertama menjadi sebuah kondisi sosial masyarakat yang mengalami kebangkrutan moral akibat perang. Kebanggaan terhadap seragam sebagai sebuah entitas dan moral sosial teraktualisasikan dalam tokoh sang doorman yang mengingatkan kita akan semangat Nazi. Der Letzte Mann merupakan kisah yang khas Jerman, berlatar masyarakat urban dengan segala artitstik kammerspiel segala karakter latar ruang serta para aktornya sebagai kekuatan dialog. Moral ‘doorman’ bisa dianggap sebagai etika kebangsaan Jerman, di mana sebuah pekerjaan kalangan masyarakat bawah menjadi suatu kebanggaan dan dedikasinya selama hidup. Moral Der Letzte Mann merupakan sebuah cita-cita romantisme bangsa Jeman, yang bisa dilihat pada adegan di mana sang doorman mengenang masa-masa kejayaannya dalam sebuah mimpi. Sebuah romantisme seorang ‘doorman’ yang masih mengandalkan fisik, kemegahan, dan tak ketinggalan, pujian dari masyarakat.

CRI_73956emiljannings01

Der Letzte Mann adalah sejarah visual untuk memperkukuh sebuah esensi sinema pada masanya, yakni gaya yang mencerminkan tema, begitu juga sebaliknya, sebuah sintesis antara skenario, aktor, latar ruang, teknik kamera sebagai kesatuan organis yang saling menyokong menjadi kesatuan entitas tersendiri.  Murnau berusaha menciptakan sebuah kemandirian visual di masa era sinema bisu, di mana visual mampu berbicara secara mandiri tanpa harus ditunjang sepenuhnya oleh elemen teater. Yang kemudian dalam karya Der Letzte Mann ini, hampir tidak menggunakan teks dalam setiap dialog maupun plot yang ada sepanjang filem. Kecuali pada adegan terakhir, Murnau memasukkan teks sebagai peralihan narasi ke dalam subjek imajiner sang tokoh. Murnau benar-benar memanfaatkan visual sebagai bahasa yang mandiri, dengan memanfaatkan kamera sebagai mata yang memperlihatkan karakter dari tokoh dan latar ruang. Pada masa Murnau di era tahun 1920-an, adalah masa sibur sinema yang masih dipengaruhi oleh teater dengan filem-filem komedi pada masa itu. Di tangan Murnau, Der Letzte Mann memperkukuh sinema Jerman sebagai gerakan yang khas. Konteks sosial politik masyarakat Jerman masa republik Weimar, merupakan situasi pasca perang yang menghasilkan estetika berbasis psikologi sosial. Oleh karenanya, gaya kammerspiel menjadi sebuah gaya yang relevan, selain ekspresionisme Jerman.

Konteks di mana Der Letzte Mann dibuat mungkin masa sinema yang cukup ramai oleh pertunjukan-pertunjukan komedi dan filem-filem hiburan lainnya. Semangat Jerman adalah semangat Eropa yang berusaha agar sinema menjadi sesuatu yang sastrawi. Murnau telah melakukannya secara visual dalam Der Letzte Mann, di mana sinema berusaha mengambil kemandiriannya dari pengaruh entitas seni lainnya, terutama teater. Seperti cita-cita luhur Murnau; “a time will come when the moving-picture patron will become addicted to one grade of picture and will not patronize a theatre that shows cheap comedies one week and classic productions another week” (ada saat di mana patron gambar terpesona oleh gambar kelas satu dan tidak akan berpatron pada teater yang mempertunjukkan komedi-komedi murahan di satu minggu dan produksi-produksi klasik di minggu lainnya).

EmilJanningsFWMurnau
[/tab_item] [tab_item title=”EN”]

Der Letztze Mann: The Independence of Murnau’s Cinema

Lastlaughposterreview_derletztemann12779_DER-LETZTE-MANN-6

In a scene, a doorman attends to the entrance of a luxurious hotel; dignified in gesture, alert and ready to serve every guest. A very friendly figure among the hustling hotel guests. At one time, two ladies are exiting. It’s a little rainy when they head to hail a cab. They retreat to the hotel’s entryway to avoid rain. The doorman, being ever sympathetic to hotel guests, come to help and call out a cab for the ladies. With his polite manners he ushers the ladies to their cab with an umbrella. The two ladies respond to his good manners by taking his hand. They seem to be very pleased with his service. A man, another guest, suddenly appears and joins the ladies to ride the cab. The doorman elegantly makes way for him. The man responds to the doorman’s service with equivalent elegance. These series of scenes are visualized in a silent film. Yet each sign and idea of the doorman’s humility and charisma is clearly captured in the scenes without explanatory text, not even dialogue subtitling just as commonly provided in most silent films. This is one of the strengths of Murnau’s silent film, Der Letzte Mann (its American version is entitled The Last Laugh), made in 1924. An undertaking of Friedrich Wilhelm Murnau, where cinema tried to gain independence from the influence of theatre that was commonly used as an element in films during the era. Parallel juxtaposition of two contrasting characters in one visual becomes the strength of the images Murnau took. The doorman along two wealthy ladies, the doorman’s friendly gestures among the busy hotel guests; those are Murnau’s attempt to eliminate the use of text in silent cinema. What Murnau did in Der Letzte Mann is his consistency in dictating visual independence by co-displaying two antagonistic ideas.

023_der_letzte_mann_cover_l-2

Considering the silent era as the dialectical visual context in which Der Letzte Mann is made, it has brilliantly eluded the use of text to explain each scene. In most silent films, text often intervened to explain the scene or to describe the characters’ dialogue. Der Letzte Mann, on the contrary, utilizes visual description of its characters and setting as a strongpoint of independent cinema. One of the visual independence that Murnau developed is shown from his depiction of the doorman as a respected individual in his neighborhood, also as a dignified personality in the community. That idea of the doorman’s character is seen in a scene where he comes home from work. The doorman’s immediate environment is well pictured through Murnau’s visualization of the life in urban working class neighborhood. Small flats and low, working class neighborhood are captured in wide shot, with some scenes depicting activities in the community. Murnau makes use of the doorman’s character by putting him on screen in his uniform, an outfit he’s very proud of. Murnau thoroughly utilizes this uniform, making it the character’s focal point as well as the story’s central force in Der Letzte Mann. The contrasting image of slum neighborhood against the doorman’s proud uniform emphasizes a symbolization of a character. Visuals therefore speak independently by capturing the doorman’s character, his uniform, and a background contrasting the symbolization of an elegant and dignified figure donning a proud uniform, wrapped in top-notch acting skill.

Emil Jannings’ astute acting skill in playing the role of the doorman prevails to create scenes to highlight the character as a self-respecting person as well as his psychological state of being on the verge of losing his identity. In several shots, as seen in one of the scenes, the doorman is considered too old to attend the door, a reason why the hotel owner decides to relocate him as a janitor. The scene shot moves from outside the hotel owner’s office. From the glass on the office door, the doorman is seen reading his relocation letter, then the camera zooms in on him. Camera shifts penetrating the glass door, zooms in, and stops at a close-up, focusing on the doorman’s face. The camerawork becomes relevant to create a sense of shock by inflicting a psychological ambience resulting from the unchained camera technique. The revelation upon the character’s psychological state through camerawork is Murnau’s attempt to remain consistent within the boundaries of visual independence, to liberate silent cinema from the use of text or explanatory narration in each storyline. His approach to stress on psychological profile of a character is considered as a form of kammerspiel, a style influenced by chamber play theatre (chamber drama) and focuses on psychological character. In Der Letzte Mann, Murnau executed it splendidly. Moreover, his accomplishment in visual independence is achieved with the right combination of actor’s character, background setting, and camera technique.

003eskwbjannings-last-laugh

To note, in Der Letzte Mann, Murnau invented many camera movement styles to visualize ideas and narratives in film. With cinematographer Karl Fruend, Der Letzte Mann discovered many camera techniques for silent era. One can see other than its opening scene, how camera narrates the atmosphere inside the hotel then shifts to picture the atmosphere outside through the hotel’s revolving door. Static shots intensify images on the space to emphasize social context visualized in the film. As a consequence, lighting and background setting become the ultimate attempt and inevitable intensity. In scenes taken in the slum, for instance, lighting technique is thickly used to visualize psychological state of modern suburban community. While D. W. Griffith used close-ups, Murnau, at the other hand, utilized static shots to form image. But Murnau didn’t seem to intensify the force of image through static shots as Orson Welles did several decades later. Murnau was developing psychological force in visual image through static shots by making use of lighting technique and setting. In a static shot where the doorman peeks outside from a hallway at the side of the hotel, psychological ambience and character formed from a balance of intermittently bright and dark backgrounds of a grand city setting. Narrative on modern city and panoptic moral are conveyed by the mixture of lighting, background setting, and the actor’s expression. To Murnau, there is always a motive and reason behind every act. In Der Letzte Mann, there is always a psychological background behind each set and lighting for the actor’s every stroke. The stark contrast between the dignity of a doorman who takes pride in his uniform and the background setting and lighting fills many scenes in Der Letzte Mann.

In this film, Murnau was actually narrating Germany’s social political entity where symbolism has significant impact in politics. The post-WW I era marked the moral decline in society’s social condition. The pride one takes in his uniform as an entity and social morality is actualized in the doorman character, who reminds us of Nazi’s esprit de corps. Der Letzte Mann is a typical German tale, set in urban society with all its artistic kammerspiel, the characteristics of its background setting, and the ability of its actors to substitute the power of dialogue. ‘Doorman’ morality may be considered as German’s ethics where a typical working class job is regarded as a pride and a lifetime dedication. The moral in Der Letzte Mann is German’s yearning of romanticism, as one can derive from the scene where the doorman recalls his prime time in a dream. The romanticism of a doorman who relies on his physicality, dignity, and—not to mention—the respect he gains in his community.

CRI_73956emiljannings01

Der Letzte Mann is a visual history to reinforce the essence of cinema in its time, i.e. a style that represents a theme and vice versa; a synthesis of scenario, actors, background setting, and camera technique as an organic unity that complement each other to be a single, solid entity. Murnau tried to develop a visual independence for the silent era, where visual is able to speak in its own language without having to be supported completely by theatrical elements. Der Letzte Mann is nearly free of text in every dialogue as well as in plot throughout the film, save for the last scene where Murnau inserted text to smoothen a switch in the narration to the character’s imaginary subject. Murnau has definitely utilized visual as an independent language by treating the camera as eyes that capture the setting and characters of each role. During Murnau’s time in the 1920s, cinema mainly consisted of comedy films highly influenced by theatre plays. In his hands, Der Letzte Mann has secured German cinema as a unique movement. Germany’s social political context during Weimar’s republic was post-war circumstances that gave birth to an aesthetics based on social psychology. Thus kammerspiel became a relevant style besides German expressionism.

The context in which Der Letzte Mann is made may be an era of cinema filled with comedy performances and other entertainment films. German enthusiasm is European enthusiasm to transform cinema into something literary. Murnau has done it visually through Der Letzte Mann where cinema liberated itself from the influence of other art forms, especially theatre. As Murnau once uttered his dream: “a time will come when the moving-picture patron will become addicted to one grade of picture and will not patronize a theatre that shows cheap comedies one week and classic productions another week.”


EmilJanningsFWMurnau
[/tab_item] [/tab]

Recommended Posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Start typing and press Enter to search