In Artikel
[tab] [tab_item title=”ID”]

Artikel ini diambil dari salah satu program kuratorial Arkipel International Documentary & Experimental Film Festival 2013.

[divider]

 

Pada 1989 terjadi perubahan radikal di kawasan Eropa Timur karena berkurangnya pengaruh Uni Soviet dan mulainya pengaruh liberalisasi pada otoritas di kawasan tersebut. ini ditandai dengan runtuhnya Tembok Berlin pada 9 November 1989, runtuhnya Tembok Berlin adalah puncak dari protes dan kerusuhan yang terjadi selama beberapa minggu, hingga akhirnya pihak Jerman Timur memberikan izin bagi warganya untuk melintas ke Berlin bagian barat. Diawali dengan revolusi di Polandia, lalu gelombang revolusi menyebar ke seluruh negara Eropa Timur hingga akhirnya Uni Soviet terpecah.

Keberadaan kelas pekerja memiliki sejarah panjang di Eropa Timur. Mereka menjadi aktor utama dalam pergerakan Revolusi Bolshevik dengan menurunkan kekuasaan Tsar yang sudah berkuasa berabad-abad. Sergei Eisenstein mengabadikan perjuangan heroik mereka pada filem October: Ten Days That Shook the World. Pada poster-poster, dan filem-filem era Uni Soviet, kelas pekerja digambarkan begitu heroik, hingga dibuatkan monumen, Worker and Kolkhoz Woman.

Workers Leaving the Lumière Factory

Workers Leaving the Lumière Factory

Workers Leaving the Lumière Factory yang dibuat oleh Louis Lumière tahun 1895, menampilkan buruh pria dan wanita yang berjalan dari pintu keluar pabrik dan keluar dari frame filem, menuju ke kiri dan kanan hingga tertutup pintunya. Gambaran bersejarah itu menandai sebuah cabang seni baru. Gambaran tentang pekerja ini adalah gambar bergerak tertua yang ditayangkan di layar lebar untuk masyarakat banyak. Kelas pekerja dan filem sudah menjadi sahabat sejak awal dia dibuat. Dan ketiga filem yang akan dibahas, telah melanjutkan keakraban tersebut dalam sudut pandang, regional, dan masa yang berbeda.

Ketiga filem yang ditampilkan, Earth of the Blind (1992), Factory (2004), dan Artel (2006) berada di masa yang sama, pasca-komunis yang dibuat setelah runtuhnya Uni Soviet, hanya saja rentang waktunya yang berbeda. Baik Factory dan Artel tidak memiliki selisih tahun pembuatan yang jauh, dan dibuat oleh sutradara yang sama. Dibandingkan kedua filem tersebut, Earth of the Blind dibuat 2 tahun setelah Lithuania merdeka dari Uni Soviet.

Secara teknis visual, ketiga filem ini memiliki perbedaan yang begitu mencolok, tapi sama-sama menggunakan medium 35mm. Earth of the Blind menggukanan tone color sepia dengan kontras warna yang rendah, hingga hampir menyerupai filem hitam-putih, menyebabkan filem ini terlihat seperti filem yang dibuat pada tahun 1920an, secara sengaja agar terlihat tua dan rapuh. Tidak ada dialog dalam filem ini. Suara kebanyakan diisi oleh ambience yang continous, suara kehampaan, dan suara decitan besi kursi roda, tapi tidak banyak. Pendekatan teknis visual Factory sangat berbeda dengan Earth of the Blind, kontras warnanya begitu terasa, frame statis, hampir tidak ada gerakan kecuali pada satu bidikan (shot). Lain pula dengan Artel yang menggunakan medium hitam-putih, tapi memiliki kesamaan teknis dari bidikannya yang statis. Sama dengan Earth of the Blind dan Factory, tidak ada dialog dalam Artel, suaranya menyatu dalam visual, merekam apa yang terjadi saat itu secara berkelanjutan.

Earth of The Blind, Audrius Stonys (1992)

Earth of The Blind, Audrius Stonys (1992)

Earth of the Blind memiliki tiga cerita: cerita tentang pemotongan sapi, cerita kakek dengan kursi rodanya, dan nenek tua yang hidup sendirian. Masing-masing cerita ini saling berdiri sendiri tapi saling terhubung dengan paradoks. Nenek dan kakek ini sudah tentu tahu mereka akan menemui ajalnya, walaupun mereka tidak bisa melihat, kondisi buta ini tidak menghentikan mereka untuk melakukan sesuatu. Bagi nenek, rutinitas yang harus dijalaninya adalah memberi makan hewan ternak, dan merawat diri, seperti menyisir rambut. Tindakan ini lucu-ironis karena si nenek tinggal sendirian dan dia buta. Sedangkan kakek dengan kursi rodanya melakukan aktivitas yang menurutnya menyenangkan, bermain musik dan berjalan-jalan. Sekali lagi hal ini lucu tapi ironis. Sedangkan di peternakan sapi, sapi-sapi ini bisa melihat dengan matanya yang bulat dan besar, tapi mereka tidak bisa melihat apa yang akan mereka hadapi, yaitu rumah pemotongan sapi. Dengan kontras pula diperlihatkan kondisi hewan yang masih hidup di padang rumput, dengan hewan yang sudah dipotong dan digantung.

Earth of the Blind berlatar di pedesaan. Saat dalam perjalanan kakek dengan kursi rodanya, kita bisa melihat beberapa pabrik tua di sisi jalan, tapi tidak banyak aktivitas, seperti mati dan ditinggalkan. Aktivitas pekerja dalam Earth of the Blind diperlihatkan pada daerah peternakan dimana ada para pemotong dan pengawas hewan ternak menaiki kuda.

Fabrika, Sergei Loznitsa (2004)

Fabrika, Sergei Loznitsa (2004)

Factory dibagi menjadi dua bagian berdasarkan jenis material yang dijadikan obyeknya, pertama adalah baja, dan yang kedua plester (bahan bangunan semacam semen). Mengawali gambar dengan bidikan dari luar pabrik, dari luar jendela yang memperlihatkan antrian pekerja memasuki pabrik. Filem ini penuh dengan pertentangan, keras dan lembut, dingin dan panas, pria dan wanita. Dan yang paling utama, manusia dan mesin. Pertentangan antara keras dan lembut direpresentasikan dengan material sumber daya alam untuk produksi pabrik, besi dan tanah lempung, lalu pabrik besi diisi oleh pekerja yang semuanya pria, kontras dengan pabrik pengolahan plester yang hampir semua pekerjanya wanita. Mesin dalam manufaktur besar bekerja untuk membantu pekerja. Pemandangan ini sudah tidak asing sejak ditemukannya mesin uap yang merevolusi industri manufaktur dunia. Karl Marx dalam Manifesto Komunis menjabarkan lemahnya perlindungan kelas pekerja yang bekerja dalam sistem kapital. Mesin-mesin pabrik menurutnya, telah menghilangkan sifat-sifat perseorangan para pekerja hingga hilang kegairahannya. Ini diperlihatkan dengan sangat jelas oleh Sergei Loznitsa. Pekerta yang bekerja mengikuti ritme dari mesin, bukan sebaliknya. Hal ini pernah diparodikan dengan jenaka oleh Charlie Chaplin dalam Modern Times. Tapi dalam Factory, apa yang diperlihatkan adalah kenyataan yang seutuhnya. Pemandangan pahit melihat manusia yang berkorban menyatu dengan mesin untuk menjinakkan material alam menjadi material jual. Sejalan dengan pernyataan Marx, makin tidak menyenangkan pekerjaan buruh, makin rendah upahnya. Pertentangan antara dingin dan panas mengakhiri filem ini. Tempratur panas ekstrim di dalam pabrik kontras dengan cuaca luar pabrik yang dingin bersalju.

Waktu istirahat dihabiskan pekerja untuk berkumpul di pantri sambil makan dan berinteraksi. Dari dalam, sayup-sayup terdengar alunan musik klasik, Frédéric Chopin, Waltz Brillante no 2 in A minor. Frédéric Chopin memiliki latar belakang sejarah dengan kelas pekerja, Komposer ini yang juga membuat Polonaise in A-flat major, atau disebut juga ‘Heroic Polonaise’, yang sejak revolusi 1848 menjadi simbol perjuangan kelas pekerja. Dalam bisingnya suara pabrik, apa yang dibicarakan para pekerja di kala rehat tidak bisa terdengar, tapi mungkin apa yang dibicarakan mereka adalah romantisme masa lalu tentang kehebatan kelas pekerja yang mampu menggulingkan pemerintahan.

Realita yang terungkap di Factory seperti bidikan awal dari balik jendela luar pabrik. Kamera menjadi jendela bagi kita tentang bobroknya sistem kapital untuk kelas pekerja.

Artel, Sergei Loznitsa (2006)

Artel, Sergei Loznitsa (2006)

Bidikan pertama dari Artel berkebalikan dengan Factory. Artel memperlihatkan pemandangan keluar dari dalam sebuah ruangan. Artel diawali dengan bidikan pemandangan yang abnormal. Perahu nelayan terbalik di tengah hamparan salju, tiang listrik yang hampir rubuh, suasana pedesaan yang terlihat sepi, kontras dengan suara latar yang ramai, suara-suara anjing, besi beradu, percakapan, angin salju. Hingga muncul sekelompok orang dengan jaket tebal melakukan aktivitas rutin mereka, mencari ikan untuk dimakan dan dijual. Artel yang memiliki arti ‘kelompok’, dan kelompok ini lalu menuju ke danau beku dan memecah es hingga terlihat airnya dan mengambil ikan yang hidup di dalamnya. Seperti Vertov, Sergei Loznitsa mengambil gambar seperti apa adanya. Pekerja dalam Artel berbeda dengan Factory dan Earth of the Blind, mereka tidak bekerja untuk siapapun kecuali untuk kelompoknya. Mereka tidak bergaji. Mereka mengendalikan mesin, tidak sebaliknya. Kelompok pekerja dalam Artel jauh lebih sejahtera, mereka memiliki peralatan sendiri, pekerja yang lebih independen.

Artel berlatar di utara Rusia yang bersuhu ekstrim dan dekat dengan Arktik. Pada tahun 1922, dengan tema yang sama Robert J. Flaherty membuat Nanook of the north tentang suku Inuit di utara Kanada. Dalam filem tersebut diperlihatkan suku Inuit yang masih lugu bertemu dengan budaya modern, seperti saat melihat gramofon. Lalu ada adegan bagaimana cara orang Inuit membuat rumah dari salju dan juga cara mereka berburu. Sebuah perbedaan yang sangat mencolok bila dibandingkan dengan masa sekarang yang dilihat di Artel.

Dari ketiga filem tersebut, Artel memiliki akhir yang paling optimis, dengan bergantinya musim, dan mencairnya salju, maka mendapatkan ikan tidak lagi begitu sulit, dan mereka bisa kembali menggunakan perahu terbalik yang menganggur selama musim dingin.

[/tab_item] [tab_item title=”EN”]

This article is one of the curatorial program Arkipel International Documentary & Experimental Film Festival 2013.

[divider]

 

Post-communism in Eastern Europe and the Life of Working Class

 

In 1989, there was a radical change in Eastern Europe because of the diminishing influence of Soviet Union and the influence of liberalization just started amongst authorities in that region. It was punctuated with the collapse of Berlin Wall in November 9, 1989. That event was the peak of protests and riots which had occured for many weeks, thus the East German government finally gave permission to its citizens to cross to the west side of Berlin. The revolution in Poland was the starting point, then the revolution wave spread through all countries in Eastern Europe until the fall of Soviet Union.

Eastern Europe has a long history about the existence of the working class. They led the movement of the Bolshevik revolution bringing down the Tsar’s power who had ruled for many centuries. Sergei Eisenstein perpetuated their heroic struggle in the film October: Ten Days That Shook the World. In posters, and films made in Soviet era, the working class was depicted heroically. They were even enshrined as called monument called Worker and Kolkhoz Woman.

Louis Lumière made Workers Leaving the Lumière Factory in 1895. It showed male and female labors walking out of a factory gate and then turned to the left and right edge of the film frame until the gate was closed. That historical image marked the birth of a new art form. The image of the labors is the oldest moving picture shown on big screen for wide audience. Labors and cinema have become best friends since the medium of film was born. And three films in this curatorial, have maintained their intimacy with their own perspective, regional, and time frame.

The three films which will be discussed here are Earth of the Blind (1992), Factory (2004) and Artel (2006). All were made in the same period—Post-Communism—after the fall of Soviet Union, only from different time frames. The production year of Factory and Artel was not far apart. Both were made by a same director, while Earth of the Blind was made just 2 years after Lithuania’s independence from the Soviet Union.

Visually these three films have such striking differences, but all were made with 35mm medium. Earth of the Blind uses sepia tone color with low color contrast, almost resembles a black-and-white film. This causes the film looks like it was made in silent era, intentionally to be looked old and fragile. There is no dialogue in the film, mostly filled by a continuous ambient sound, then the sound of emptiness, and a bit of screeching sound of a metal wheelchair. The visual technical approach in Factory is very different from Earth of the Blind, the color contrast is noticeably. The frame is static, almost no movement except in one shot. While Artel also uses black and white film as in Earth of the Blind, but has technical similarities of static shots as in Factory. Similar to Earth of the Blind and Factory, there is no dialogue in the Artel. The sound blends with the visual, recording what happens sustainably.

Earth of the Blind is formed by three stories: about cows and the slaughterhouse, an old man with his wheelchair, and an old woman who lives alone. Each story stands on its own but connected with paradox. The old man and old woman surely know they will pass away pretty soon, even though they are blind, this condition don’t stop them to do something in their lives. The old woman’s daily routines are feeding her livestock animals, and taking care of herself, such as combing her hair. Whereas the old man does his exciting daily activities with his wheelchair such as playing music, and wandering around. again, this funny behaviors were ironic. Their habits and behaviors are funny but ironic considering both blind and live alone.

Meanwhile in the cattle breeding, the cows with their big round eyes and supposedly can see everything around them are not able to predict their future, slaughterhouse. We are also shown the condition of the still-living cows in in contrast with the ones which have been chopped and hanged.

Earth of the Blind was set in a rural area. We can see some abandoned old factories at the side of the road when the old man wandering around with his wheelchair.. Most of the workers’ activities in Earth of the Blind were shown around the cattle breeding and the slaughterhouse, with the butchers and the supervisors riding horses.

Factory is divided into two segments based on the object materials used in the factory. The first is steel, and the second is plaster. The film begins with a shot from outside the factory. From outside the window, the workers show queuing to go inside the factory. Contradiction is used in the film, like hard and soft, cold and hot, man and woman, and most importantly, human and machine. The soft and hard contradiction is represented with the materials used in the factory production—steel and clay. The steel factory is filled with male labors, while in the plaster processing factory almost all the labors are female.

Machinery in big manufacture works to help the labors. This view is familiar since the invention of steam machine. Karl Marx in his Communist Manifesto described the weak protection of the working class who works in capital system. The factory machineries have omitted individual characteristics and morale of the workers. This is shown very clearly by Sergei Loznitsa. It is the workers who work following the rhythm of the machineries, not vice versa. This condition was parodied by Charlie Chaplin in Modern Times, but in Factory, what we see is the real ugly truth, and not funny at all to see human sacrifice fused with machine to tame natural resources then turned them into a ready-to-sale material. Attuned with Marx’s statement, the more unpleasant their job is, the lower the wages would be. The film ends with a contradiction between cold and hot condition. The extreme hot temprature inside the factory contradicted with the snowy and cold weather outside.

The hour break is spent by the labors to gather in the pantry while eating and interacting to each other. We can hear a classical music drifted from inside, it was Frédéric Chopin’s composition, Waltz Brillante no 2 in A Minor. Frédéric Chopin had historical background with the working class. He was the composer who made Polonaise in A-flat Major, or could also be called as ‘Heroic Polonaise’, which since the 1848 revolution had been used as the working class’s symbol of struggle. In the noise of the factory we can not hear what the labors are talking about, but maybe they are mumbling about past romantism of the greatness of the working class who was capable to overthrow the empire.

The reality revealed in Factory is like the first shot at the beginning of the film, from outside the factory’s window. Camera becomes a window for us to look at the injustice of capital system for the working class.

The first shot from Artel is in contrast to Factory. Artel shows a view of natural landscape out from inside of a room. The scenery shots are unusual. A capsized fishing boat in the middle of a snowfield, a nearly collapsed electric pole, a quiet rural area is in contrast to the bustling sound in the background, iron clanging, the sound of dogs, conversation, and snowy wind. And then a group of people with their thick jackets appear on the screen doing their routines, looking for fishes to be eaten and to be sold. Artel means ‘a group’, and this group is heading to the frozen lake dan breaking the ice to take the fishes out of the cold water. Like Vertov, Sergei Loznitsa shoots the reality as it is. The workers in Artel are different with the ones in Factory and Earth of the Blind. They do not work for anyone except for their own group. They are paid by no one. They control the machine, not the other way around. The workers in Artel are much more prosperous, they have their own tools, they are more independent.

Artel was set in north Russia, which the temprature is extreme, and near to the Arctic. In 1922, Robert J. Flaherty made a film with similar theme, Nanook of the North about the Inuit tribe in north Canada. The film documents the meeting of the naive Inuit tribe and modern culture. We can see their reaction when holding a gramophone for the first time, how they make their house with blocks of snow and how they hunt. A very noticeable difference when compared with what is presented in Artel.

Out of those three films discussed in this curatorial, Artel has the most optimistic ending. When the season is changing, and the snow begins to melt, then catching fishes is no longer a hard work, so they can use the capsized boat again which was unused during the winter.

[/tab_item] [/tab]
Recommended Posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Start typing and press Enter to search