In Artikel

 

Neorealisme Italia belum habis, setidaknya itu yang diusahakan oleh Zavattini dalam filem Umberto D. (1952).

(Catatan Menonton Umberto D. di Senin Sinema Dunia. Senin, 19 Desember 2011)

Umberto D. SSD.

Setelah menyelesaikan Miracle in Milan di tahun 1951, yang dapat dianggap sebagai proyek sisipan dari Zavattini dan Vittorio de Sica. Dan kebesaran filem Pencuri Sepeda tahun 1948, membuat banyak kalangan menyandingkan dengan karya mereka berikutnya, Umberto D.. Neorealisme Italia adalah seni pembebasan, termasuk semangat pembebasan dari konvensi-konvensi Neorealisme Italia itu sendiri. Hal ini membuktikan Neorealisme Italia belumlah selesai dalam pandangan Zavattini.

Umberto D. berkisah tentang seorang bernama Umberto Domenico Ferrari dalam kesendiriannya di hari tua. Kisah ini digambarkan pada masa Italia pasca perang. Tokoh ini dihadirkan tidak tanpa cela. Ia selalu mencari celah untuk bisa mendapatkan jatah makan dari tempat para gelandangan di sebuah Rumah Sakit. Ia berada dalam kebimbangan di tengah-tengah kesendirian. Umberto berteman dengan anjingnya, Flike yang begitu setia pada tuannya hingga akhir cerita.

Sebagai filem Neorealisme di penghujung masanya (1950-an), Umberto D. menggambarkan realisme yang fokus pada “tokoh”. Hal ini mendapat kritik pedas dari kritikus kiri Cinema Nuovo Italia dan mereka tidak menyambutnya dengan optimis.

Filem Dalam Satuan Peristiwa
Menurut André Bazin, Umberto D. adalah “peristiwa” dan bukan adegan dari karakter tokoh protagonis. Zavattini berusaha untuk keluar dari dramatisasi tradisional. Uraian peristiwa dibangun dengan tangga dramatisasi (elips). Zavattini dan De Sica memecahnya jadi satuan-satuan kecil, sampai pada tingkatan yang banal sekalipun. Semua berjalan bagai sesuatu yang faktual, tanpa kecenderungan untuk penciptaan semacam “ketegangan” (suspense).

Teknik elips dalam konstruksi filem, sering digunakan dalam membangun dramatisasi. Namun, tidak dalam Umberto D., Vittorio De Sica mengurai peristiwa dalam serpihan-serpihan yang kadang sangat mandiri. Hal ini dapat dilihat pada adegan seorang babu muda yang sedang berusaha mengusir kerumunan semut di dapur. Atau pada adegan ketika sang babu berusaha menggunakan kakinya untuk menutup pintu dapur. Uraian-uraian peristiwa dalam Umberto D., sedemikian berlangsung sebagai kisah visual. Dalam konteks ini, sesungguhnya Umberto D., nyaris tanpa ungkapan bentuk elips seperti yang banyak diperlihatkan dramatisasi dalam filem.

Uraian-uraian tentang tokoh Umberto dalam kisah, sebenarnya bisa dilihat dari penyulihan peristiwa yang menyertai tokoh tersebut. Semacam apakah uraian peristiwa yang menghasilkan karakter tokoh, atau ekspresi sang tokoh sebagai peristiwa, atau bahkan keduanya mengandaikan sesuatu yang organik? Neorealisme Italia sekali lagi adalah seni pembebasan, dengan semangat estetika yang selalu berangkat dari perihal ontologi ketimbang estetik. Kebimbangan Umberto berlangsung dalam uraian. Di akhir cerita, pada adegan Umberto yang berusaha bersembunyi dari sang anjing, De sica tidak (banyak) mengurai kehadiran sang tokoh dalam bidikan dekat yang mempertegas kebimbangan sang tokoh.

6

Umberto D. mungkin saja tidak sebesar Pencuri Sepeda. Namun semangat dan khasanah Neorealisme Italia, justru semakin terbaca ketika digunakan dalam konteks peristiwa yang berbeda. Italia di masa damai, ketika para produser kembali memandu iklim filem bagi para penontonnya. Kekuatan Umberto D., justru terletak pada konteks sosial dan evolusi estetika. Di lain pihak, Neorealisme Italia oleh para kritikus dari kalangan kiri, membawanya ke arah yang cenderung dogmatis.


Umberto D., tanpa subteks, bahasa Italia.

8

Recommended Posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Start typing and press Enter to search