In Artikel

Dalam sejarah sinema dunia, filem propaganda tidak pernah lepas sebagai bagian strategi kebudayaan dalam mendistribusikan ideologi tertentu. Ada banyak karya-karya filem yang merupakan bagian dari propaganda politik. Namun, tidak sedikit dari filem-filem propaganda politik itu dibuat oleh sutradara-sutradara handal, yang menghasilkan karya-karya besar. Ada banyak dari filem-filem propaganda politik tersebut menjadi studi akademik yang tidak pernah habisnya hingga sekarang, seperti karya-karya Leni Riefenstahl (Jerman), Sergei Eisenstein (Rusia), Mikhail Kalatozov (Rusia) dan lainnya.

image10

image1

Di Indonesia, filem sebagai propaganda politik juga digunakan dengan sangat efektif oleh pemerintah, terutama pada masa Orde Baru –Soeharto. Ada banyak filem-filem perjuangan yang menjadi tontonan wajib bagi siswa sekolah dasar hingga menengah. Filem-filem itu bercerita tentang kehebatan perjuangan rakyat Indonesia, terutama militer dalam mempertahankan revolusi. Pada 1980an hingga 1990an, Departemen Penerangan Republik Indonesia —dalam hal ini Pusat Produksi Filem Negara (PPFN)— merupakan lembaga yang bertanggung jawab dalam memproduksi filem-filem dengan konten propaganda politik rezim Orde Baru. Pemerintah Pusat memberikan anggaran yang cukup besar dalam memproduksi tontonan masyarakat ini.

Salah satu filem propaganda yang sangat “melegenda” adalah Pengkhianatan G 30S/PKI, disutradarai Arifin C. Noer dan diproduksi oleh PPFN tahun 1984. Pada masa Orde Baru, filem ini menjadi tontonan wajib bagi para siswa sekolah dasar hingga menengah. Televisi diwajibkan menayangkan filem berdurasi tiga jam ini setiap tanggal 30 September, sebagai salah satu bagian peringatan hari Kesaktian Pancasila setiap tahun. Penayangan baru dihentikan setelah rezim Orde Baru turun tahta di 1998. Filem ini berkisah tentang tragedi di 30 September 1965, di mana terjadi penculikan terhadap tujuh jenderal —yang disebut sebagai Dewan Jenderal— yang akan melakukan kudeta terhadap Pemimpin Tertinggi, Soekarno.

image13

Terlepas dari misi propaganda yang dibawa dalam Pengkhianatan G 30S/PKI, perlu juga kita melihat bagaimana sutradara meramu dan “bermain” dalam medium audio-visual. Banyak temuan-temuan menarik di berbagai adegan, menurut saya merupakan capaian puncak bahasa filem yang disampaikan oleh Arifin C. Noer. Jurnal Footage mencoba membaca karya fenomenal ini dalam bingkai bahasa filem, tentu tidak melepaskan konten propaganda yang ada di dalamnya.

Hingga sekarang, peristiwa penculikan tujuh jenderal di tahun 1965 —yang menewaskan enam jenderal dan satu perwira— tidak pernah jelas siapa yang paling bertanggung jawab. Pemerintah dan militer menjadikan Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan D.N Aidit sebagai pelaku utama. Namun dalam perspektif lain, para peneliti sejarah dan politik Indonesia maupun dari luar negeri, membaca keterlibatan militer (sebuah imbas dari konflik yang terjadi dalam jajaran elit Angkatatan Darat) —dalam hal ini, Soeharto juga bermain dan memanfaatkan situasi yang berujung kepada pengambilalihan kekuasaan Soekarno secara perlahan-lahan pada tahun 1966. Ada juga yang membaca keterlibatan badan intelijen Amerika Serikat (CIA), sebagai lembaga yang ada di belakang layar salah satu peristiwa paling tragis bagi bangsa Indonesia ini.

image19

Pengkhianatan G 30S/PKI terdiri dari dua bagian; pertama, latar belakang peristiwa, rencana coup, dan penculikan para jenderal; kedua, diberi “Penumpasan”. Pada bagian ini digambarkan kebengisan para penculik (PKI, Kaum Tani dan GERWANI) terhadap para korban. Di bagian kedua ini sosok Soeharto mulai dimunculkan, sebagai sosok yang akan menumpas dan membongkar konspirasi di belakang penculikan, lalu penemuan korban penculikan, kemenangan Pancasila sebagai Dasar Negara dan filem ditutup dengan suara rekaman asli Jenderal Nasution saat prosesi pemakaman korban. Dua bagian ini secara sangat sadar ditulis oleh Arifin. Ditulis dengan plot dan gaya bahasa yang berbeda. Setiap bagian menempatkan tokoh-tokoh utama dalam bahasa visual yang berbeda pula, seperti pada tokoh Presiden Soekarno yang selalu ditampilkan sebagai sosok yang gagah, berwibawa, intelektual dan terpelajar —dapat dilihat pada bagian pertama pada saat Soekarno digambarkan sakit dan kesehariannya tidak lepas dari buku-buku— Arifin selalu menghadirkan presiden pertama RI ini dengan low angle. Tokoh Syam Kamaruzaman —yang dalam filem ini menjadi tokoh koordinator pelaksana penculikan para jenderal— digambarkan sebagai tokoh yang sangat tegas, bengis, percaya diri dan perokok berat. Arifin menggambarkan tokoh ini tidak lepas dari asap yang mengepul dari mulutnya. Beberapa dialog pada bagian pertama dihadirkan dalam bingkai-bingkai extreme-close-up. Tokoh D.N. Aidit digambarkan sebagai tokoh yang ambisius, gila kekuasaan dengan percaya diri tinggi. Kolonel Untung —komandan pasukan Cakrabirawa yang menjadi pemimpin militer dalam penculikan para jenderal— digambarkan sebagai sosok yang gamang dan tidak terlalu yakin pada pilihan politiknya. Terakhir, tokoh Mayor Jenderal Soeharto —yang baru dimunculkan pada bagian kedua pada filem ini— digambarkan sebagai sosok yang tenang, berwibawa dan penuh kesantunan.

image2

image3

 

Temaram, Voyeuring, dan Sejarah Gelap

Menonton Pengkhianatan G 30S/PKI saat ini menjadikan kita bisa lebih obyektif dalam menilainya. Adegan per adegan dibangun dengan konstruksi bahasa visual yang sangat terukur. Arifin C. Noer benar-benar mengerti bahwa filem ini merupakan propaganda dan ia pun tahu bagaimana memvisualkan teori konspirasi yang dibangun oleh pemerintah Orde Baru. Filem dibuka dengan pernyataan yang sangat tegas tentang apa itu pengorbanan dan perjuangan yang tertulis dalam monumen di Lubang Buaya. Sebuah kalimat yang  dibacakan oleh beberapa orang secara bersamaan, yang membangun imaji tentang suara-suara orang yang dikubur di sumur Lubang Buaya:

Cita-cita perjuangan kami untuk menegakan kemurnian pancasila tidak mungkin dipatahkan hanya dengan mengubur kami dalam sumur ini.”
— Lubang Buaya 1 Oktober 1965.

Setelah pernyataan pembuka, suasana bernuansa gelap dan temaram. Kaki-kaki melangkah dalam kegelapan. Diikuti oleh suasana orang-orang yang sedang melakukan sholat subuh di sebuah mesjid. Di antara itu, kamera menghadap ke langit yang masih gelap. Tidak ada suara.  Kemudian terjadilah penyerangan terhadap orang-orang di masjid. Penghancuran kitab suci. Kemudian suara narator menerangkan berbagai peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang Partai Komunis Indonesia dan underbow-nya di berbagai daerah di Jawa. Narator juga menerangkan intrik-intrik politik yang terjadi di kalangan elit pada masa itu; keadaan Presiden Soekarno yang dalam kondisi sakit, dan persaingan yang terjadi di Angkatan Darat dihembuskan oleh orang-orang PKI sebagai isu utama ke masyarakat.

image12

Melihat lebih jauh dalam filem ini, pada bagian pertama, yang paling menarik adalah adegan demi adegan konspirasi elit PKI dalam menyiapkan penculikan hingga aksi itu dilakukan. Hampir semua adegan rapat dan dialog antar tokoh selalu dibuat sangat detail —dalam hal ini pembangunan karakter dari tokoh tersebut. Suasana visual pada bagian pertama ini begitu temaram, gelap dan tersembunyi di antara hingar bingar Jakarta. Arifin mengerti betul tentang adegan-adegan yang ia buat untuk para tokoh PKI ini merupakan “teori” yang harus ia visualkan dalam filem. Ia sangat berhati-hati dalam menggunakan dialog. Dialog-dialog yang ia gunakan pada tiap-tiap tokoh sangat dibatasi. Tokoh-tokoh di belakang layar ini hanya mengeluarkan kata-kata kunci menurut versi Orde Baru yang melatarbelakangi Gerakan 30 September. Seperti dalam sebuah rapat, Syam Kamaruzaman hanya berkata, “inilah saatnya kita merebut kekuasaan. Kita harus mendahului, jangan didahului”. Adegan ini lebih banyak bermain dalam ranah visual. Digambarkan masing-masing tokoh saling berdialog dan membayangkan apa yang akan mereka lakukan. Dalam adegan itu, suasana “keseharian” di sebuah rumah tetap digambarkan oleh sutradara. Gelas-gelas kopi, rokok dan istri yang melayani para tamu. Adegan-adegan ini menjadi sangat menarik karena begitu cair. Tanpa pretensi berlebihan untuk menggambarkan sebuah kelompok yang mempersiapkan gerakan penumbangan kekuasaan negara. Semua dibuat biasa. Arifin menampilkan detail-detail perabotan dalam rumah, lampu, kursi, pajangan di dinding, buku-buku dan ekspresi orang-orang tersebut dengan sangat lihai.

image15

Rokok menjadi penting dalam filem ini. Setiap karakter yang diasumsikan sebagai tokoh sentral selalu memegang rokok. Pada saat-saat tertentu, Arifin menampilkan tokoh-tokoh itu membakar rokoknya dengan gayanya masing-masing dan terkadang ditampilkan begitu ekstrim, asap-asap rokok dihisap melalui mulut mereka. Adegan membakar rokok, menghisap, dan mematikan dipadu dengan dialog-dialong singkat para karakter. Tokoh D.N. Aidit digambarkan sebagai perokok berat. Saat ia memimpin rapat, di tangannya rokok tidak pernah lepas. Begitu juga saat ia di rumah persembunyian, Aidit ditampilkan menghisap rokok dalam-dalam sebagai gambaran berpikir keras dalam menghadapi situasi pasca penculikan. Arifin sadar betul karakter dari tokoh-tokoh ini adalah para intelektual dan pemikir. Sutradara secara terselubung sangat jelas mencoba membangun karakter dan menggambarkan bagaimana orang-orang ini bukanlah para pembunuh picisan, namun para intelektual. Dulu, seorang intelektual dan pemikir selalu dibayangkan sebagai karakter yang tidak pernah lepas dari asap rokok. Adegan merokok ini juga ditampilkan pada karakter Soeharto. Pada bagian kedua filem ini, tergambar Soeharto sedang berpikir keras dan diam dalam menghadapi persoalan, Arifin menggambarkannya duduk di sisi jendela kantor yaitu markas Komando Cadangan Strategis Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (KOSTRAD), sambil menghisap rokok dalam-dalam.

image5

image6

Selain rokok, kopi juga menjadi penting dalam adegan per adegan di bagian pertama filem ini. Kopi dalam suasana rapat seperti menjadi distribusi informasi di antara masing-masing karakter. Dialog-dialog rencana penculikan yang diselipkan dengan gelas-gelas kopi yang masih penuh, kemudian gelas kosong dan adegan minum kopi, berhasil menjadi pengisi kekosongan dialog pada adegan rapat-rapat di suasana temaram itu. Seperti rokok, kopi adalah simbol orang-orang yang berpikir dari kelas tertentu. Arifin tahu betul akan hal ini. Karakter Soeharto digambarkan tidak minum kopi, tapi teh. Saat ia duduk di meja kerjanya, terlihat gelas teh, yang kemudian diminumnya.

Adegan-adegan dengan suasana temaram pada bagian pertama filem ini diselingi dengan adegan-adegan lain yaitu karakter-karakter korban. Arifin menggunakan multi-layer sequence untuk menjelaskan keterhubungan masing-masing peritiwa. Metode jump-cut sangat sering digunakan. Saya kira cukup behasil. Karena di antara jeda satu peristiwa seperti suasana rapat dan suasana rumah/keluarga para jenderal dihadirkan beriringan dengan adegan Presiden Soekarno di istana. Sutradara tidak cerewet untuk menjelaskan karakter para jenderal. Ia cukup menampilkan suasana rumah, kerja, dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Arifin sangat disiplin dalam “menandakan” salah satu karakter, seperti karakter D.I. Panjaitan yang tegas dan religius. Ia ditampilkan sedang mendengarkan alunan Requiem Mozart dari piringan hitam di ruang kerjanya. Musik ini terus hadir hingga saat ia ditembak di depan rumahnya. Dan mencapai klimaksnya pada adegan teriakan dengan muka penuh darah putri D.I. Panjaitan yang ditutup dengan aliran darah di aspal jalan. Pada tokoh Pierre Tendean juga demikian. Sutradara juga penuh disiplin menampilkan karakter ini. Saat pertama muncul, Pierre masuk ke kamar sambil membaca surat cinta dari sang kekasih. Musik melankolis mengiringinya dan membangun suasana dengan sangat baik. Pada saat kematiannya ditembak di Lubang Buaya, musik itu hadir kembali. Penonton diajak kembali kepada suasana “membaca surat cinta” yang dihadirkan jauh sebelum pembunuhan.

image4

image11

Pada korban lainnya, Mayor Jenderal Soeprapto, sutradara sangat jenial dalam membangun montase sebuah peristiwa “kematian” yang akan dihadapi olehnya. Digambarkan Soeprapto sedang duduk di meja kerja sambil menghisap cangklong dan menggambar, kemudian sang istri datang.

“Masih sakit, mas?” tanya sang istri.
Kok, malah nanya. Mau ‘minta’, apa? Justru karena sakit ini gak bisa tidur. Isap cangklong saja gak bisa. Tidurlah ‘situ’ dulu.” Jawab sang Jenderal pada istrinya.
“Gambar apa itu, mas?” tanya istri lagi.
“Ini rencana Museum Perjuangan di Yogya.” Jawab suami.
Loh kok kayak kuburan toh?” Tanya istri lagi.

Kamera menuju ke gambar. Tanpa dialog selanjutnya. Arifin sangat pandai membangun konstruksi “kematian” dengan dialog yang menyentil dan hangat, seperti minta, apa?, situ —sebuah dialog intim antar suami-istri. Juga pada pernyataan istri pada gambar seperti kuburan. Di sini kontradiktif keintiman dan “tanda kematian” dipertautkan oleh Arifin.

Pengkhianatan G 30S/PKI sangat jelas menampilkan para jenderal dengan perspektif kepahlawanan versi militer. Mereka digambarkan sebagai orang-orang yang berkarakter, terhormat, tegas dan berwibawa. Meskipun Arifin mencoba mereduksi ini secara terselubung dalam beberapa karakter, namun suasana kepahlawanan dari tokoh-tokoh yang menjadi korban ini tidak bisa dihindarkan. Tokoh Jenderal Nasution dan Ade Irma Suryani adalah merupakan kesempatan bagi Arifin untuk menghilangkan image militeristik itu. Hubungan antara anak dan ayah ini dihadirkan dengan hangat. Namun, usaha ini tidak begitu berhasil karena dalam dialog-dialog yang dimunculkan lebih memfokuskan sang anak yang ingin menjadi seorang jenderal dengan bintang-bintang di bahunya. Saya kira, Arifin kehabisan cara untuk menjelaskan hubungan antara anak dan bapak ini, karena filem ini merupakan “pesanan” dari rezim militer. Bila kita lihat adegan-adegan lain, Arifin sangat menikmati permainan bahasa filem yang baik.

image7

Suasana rapat-rapat para petinggi PKI dalam filem ini dihadirkan dengan tidak biasa. Selain menampilkan close-up para karakter, penggambaran ruangan juga menghadirkan permainan visual yang tidak biasa. Salah satu contoh adalah rapat di meja bundar di sebuah rumah. Karakter-karater di sana dibiarkan menghalangi kamera. Lalu, ada extreme-shot dari atas, yang memberikan suasana sangat dalam. Ini juga dilakukan pada rapat-rapat Soeharto dengan staf-nya di markas KOSTRAD. High-angle menjadi gaya shot utama. Dari sini saya berpendapat bahwa Arifin berekperimentasi dengan konsep voyeuring atau mengintip dari jauh. Hal ini tentu tidak lepas dari ide, “melihat dari jauh sebuah peristiwa” yang belum tentu diyakini kebenarannya oleh sang sutradara. Pada pertemuan-pertemuan tertentu dalam filem ini, Arifin terkadang hanya menampilkan bayangan orang-orang dan juga suasana percakapan dari balik tirai jendela. Secara filem, gambaran ini sangat puitis. Tentu Arifin ingin menghadirkan keterselubungan peristiwa demi peristiwa yang melatarbelakangi Gerakan 30 September. Secara terselubung Arifin mengatakan dalam bahasa filemnya peristiwa-peristiwa ini merupakan sejarah yang masih gelap.

 

Penculikan Dalam Gelap dan Pesta Para Pembunuh

Pada bagian lain filem Pengkhianatan G 30S/PKI yang perlu mendapat perhatian adalah adegan penculikan para jenderal dan pembunuhannya. Penculikan dibuat begitu mencekam. Mobil-mobil militer berjalan dalam kegelapan. Tanpa suara. Frame gambar berhenti pada lampu truk militer yang berhenti di depan rumah para korban. Ada beberapa cara dan peristiwa dalam adegan penculikan. Ada yang terasa sangat kasar dan keras. Adapula yang sangat halus dan manis. Ada pula gabungan dari kedua cara tersebut. Seperti pada adegan penculikan Jenderal Ahmad Yani, dibuka dengan pasukan Cakrabirawa masuk ke halaman rumah sang jenderal dan mengetuk pintu. Sang pembantu membuka, lalu dengan ‘garang’ sang komandan operasi menanyakan tuan rumah. Seketika, seorang anak kecil datang meminta untuk bertemu sang ibu kepada pembantu.

Komandan bicara dengan manis dan sopan dengan sang anak, “mana bapakmu, nak?”.
“Tidur,” kata sang anak.
“Tolong kamu bangunkan bapak, ya. Bilang ada tamu.”

Kemudian Jenderal Yani keluar dengan masih berpiyama. Di sini baru terjadi peristiwa kekerasan. Yani menampar para prajurit yang tiba-tiba menghardiknya. Ia ditembak dengan senjata mesin. Sang anak melihatnya dari balik meja.

image8

image20

Adegan penculikan lain juga hampir sama. Namun, yang menarik adalah adegan kedatangan para penculik. Tentara itu berlari dan ditampilkan dengan gerakan slow-motion tanpa suara. Ada musik khas, yang selalu hadir pada saat kedatangan para penculik di rumah para jenderal. Hingga saat ini, musik yang dipakai dalam adegan penculikan menjadi karakter utama dari filem Pengkhianatan G 30S/PKI. Para penonton generasi 1980an dan 1990an di Indonesia akan langsung tahu musik pada adegan ini jika diperdengakan, meski tanpa filemnya. Mereka akan langsung tahu bahwa musik ini adalah dari filem Pengkhianatan G 30/PKI.

Pada adegan penyiksaan dan pembunuhan di Lubang Buaya, Arifin bermain dengan bahasa filem yang sangat jenial. Dialog kekerasan saat interogasi para jenderal dihadirkan tanpa menampilkan muka dan karakter para interogator. Sutradara meramunya dengan visual kaki-kaki, tangan dan muka para jenderal yang tenang dan diam. Di antara itu terdengar sorak-sorai kegembiraan dan caci maki pada jenderal. “Darah itu merah, Jenderal!” Ancaman-ancaman  dan paksaan untuk menandatangani pernyataan keberadaan Dewan Jenderal ditutup dengan sebilah pisau yang muncul di depan salah seorang jenderal.

image9

Kemudian adegan beralih ke suasan di luar rumah penyiksaan. Terlihat para lelaki dan perempuan menari dan bernyanyi. Mengalun lagu Genjer-genjer yang sambil sesekali menghadirkan suasana dalam ruangan. Seorang perempuan mendatangi salah seorang korban. Pisau silet di dinding. Ia mengambilnya, kemudian diletakan silet itu di pipi sang jenderal, lalu disayat. Kemudian adegan pembunuhan. Tikaman dan tembakan. Peristiwa ini ditutup dengan diseretnya para jenderal ke dalam lubang sumur yang telah disiapkan.

 

Monumen Nasional, Soeharto dan Penumpasan

Bagian kedua filem ini dibuka dengan gambar Monumen Nasional (Monas). Kemudian muncul tulisan: “Bagian II: Penumpasan”. Adegan beranjak ke tokoh sentral, Soeharto. Dimulai dengan suasana rumahnya di pagi hari, Soeharto digambarkan sebagai tokoh yang sangat tajam dalam melihat situasi. Hal ini terlihat dari gambaran bagaimana ia langsung berinisiatif mengambil alih tampuk pimpinan Angkatan Darat. Tokoh ini juga digambarkan sebagai tokoh yang sangat hati-hati dan memperhatikan detail-detail tindakan yang akan ia lakukan. Seperti pada adegan ia memanggil komandan pasukan khusus, Kolonel Sarwo Edhi. Ia memerintahkan untuk mengambil alih Radio Republik Indonesia (RRI). Dalam perintahnya ia mengatakan, “usahakan jangan sampai ada korban”. Ini merupakan salah satu gambaran yang dibentuk oleh rezim Orde Baru untuk menunjukan rasa kemanusian yang tinggi dari Soeharto. Menurut saya, Arifin tidak terlalu banyak berbuat “sesuatu” dalam menghadirkan sosok Soeharto sesungguhnya. Adegan demi adegan yang berhubungan dengan tokoh ini selalu ditampilkan sebagai sosok yang ideal sebagai seorang pemimpin.

image14

Pada adegan-adegan rapat koordinasi penumpasan, gambaran Soeharto seperti hanya mengikuti “S.O.P.” dari apa yang digambarkan oleh pemerintah waktu itu sebagai produser filem ini. Dalam satu adegan, Soeharto seperti menjadi seorang penceramah kepada para perwira lainnya. Ia mengatakan:

“Apa yang disebut dewan Jenderal itu tidak ada. Sama sekali tidak benar apa yang dikatakan Untung. Menghadapi situasi ini, kita ingin mencari keadilan. Karena jenderal-jenderal kita telah diculik dan dibunuh. Kita merasa terpanggil sebagai prajuri Sapta Marga, karena yang terancam adalah bangsa dan negara. Saya memutuskan untuk menghadapi mereka. Kalau kita tidak hadapi, kita akan mati konyol. Seorang prajurit Sapta Marga harus memilih mati untuk Negara dan Pancasila, bukan mati konyol. Insya Allah, kita akan berhasil menumpas mereka.”

Teks di atas adalah dialog yang paling buruk dalam seluruh adegan filem ini. Secara pribadi saya sangat membenci dialog ini. Di sinilah letak salah satu “dosa” besar Arifin C. Noer kepada sejarah bangsa dan kebudayaan Indonesia. Ia tidak melakukan apa-apa. Meski seharusnya ia bisa memainkannya dalam bahasa filem, tapi tidak berbuat apa-apa. Ia cukup berhasil menggunakan bahasa filem yang baik pada bagian pertama filem ini. Namun, ia kalah dengan sosok Soeharto yang memang menjadi tokoh yang paling sentral sebagai penumpas Gerakan 30 September 1965 ini.

Monas dihadirkan beberapa kali dalam bagian kedua filem Pengkhianatan G 30S/PKI. Bangunan berbentuk phallus yang merupakan kebanggaan Soekarno ini dipakai oleh Arifin sebagai penanda “kemenangan”. Tidak seperti filem-filem yang berlokasi di Jakarta, Monas pada filem tidak dipakai sebagai identifikasi lokasi yaitu Jakarta. Arifin dengan baik menggunakan shot Monas low-angle berlatar langit cerah sebagai jembatan untuk peristiwa kemenangan penumpasan Gerakan 30 September.

image17

image18

Sama seperti bagian pertama, adegan-adegan pada bagian kedua selalu menggunakan dialog yang  minim. Dialog panjang hanya digunakan pada saat Soeharto menyampaikan instruksi dan ketika ia menghadap Soekarno. Dialog-dialog ini sengaja dibuat mengambang untuk memberikan ruang interpretasi kepada penonton dan juga membangun dramatisasi. Kadang-kadang dialog hanya dalam satu kata “halo”, ketika mengangkat telepon. Kemudian langsung loncat ke adegan lain.

Penumpasan yang dimaksud dalam bagian kedua filem ini tidak begitu jelas. Di sini lebih banyak menampilkan sosok Soeharto yang memberikan perintah. Para tokoh PKI digambarkan dalam suasana ketakutan di tempat persembunyiannya. Tidak ada aksi penangkapan mereka. Aksi penumpasan ditutup dengan ditemukannya tempat para jenderal di kubur —Lubang Buaya. Pada adegan penggalian ini, sutradara menggunakan suara asli Soeharto yang direkam oleh wartawan RRI pada 3 September 1965. Lagi-lagi Arifin tidak dapat berbuat banyak dalam menggunakan footage suara ini dalam bahasa filem yang baik. Ia lalu menggabungkan footage gambar asli saat penggalian terjadi. Filem ditutup dengan suasana haru prosesi pemakaman para jenderal dan diikuti oleh rekaman asli suara Jenderal Nasution dalam mengiringi kepergian para Pahlawan Revolusi ini.

Pengkhianatan G 30S/PKI 1

Pengkhianatan G 30S/PKI 2

Pengkhianatan G 30S/PKI 3

Pengkhianatan G 30S/PKI 4

Pengkhianatan G 30S/PKI 5

Pengkhianatan G 30S/PKI 6

Pengkhianatan G 30S/PKI 7

Pengkhianatan G 30S/PKI 8

Pengkhianatan G 30S/PKI 9

Pengkhianatan G 30S/PKI 10

Pengkhianatan G 30S/PKI 11

Pengkhianatan G 30S/PKI 12

 


 

Tentang Arifin C. Noer

Arifin Chairin Noer lahir di Cirebon, Jawa Barat pada 10 Maret 1941 atau dikenal sebagai Arifin C. Noer. Ia adalah sutradara teater dan filem yang beberapa kali memenangkan Piala Citra untuk penghargaan filem terbaik dan penulis skenario terbaik. Arifin C. Noer, anak kedua Mohammad Adnan, menamatkan SD Taman Siswa dan SMP Muhammadiyah di Cirebon. Kemudian melanjutkan ke SMA Negeri Cirebon, namun tidak selesai. Setelah itu, ia masuk SMA Jurnalistik, Solo. Setelah itu ia kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Cokroaminoto, Yogyakarta (1967) dan International Writing Program, Universitas Iowa, AS (1972). Saat kuliah di Universitas Cokroaminoto Solo, ia bergabung dengan Teater Muslim pimpinan Mohammad Diponegor. Lalu ia hijrah ke Jakarta dan  menikah dengan Nurul Aini istrinya yang pertama, dikaruniai dua anak, Vita Ariavita dan Veda Amritha. Pasangan ini bercerai pada 1979. Arifin menikah lagi dengan aktris Jajang C. Noer. Darinya, Arifin mempunyai dua anak Nitta Nazyra dan Marah Laut. Ia adalah sutradara yang menemukan bakat aktris Joice Erna dan mengangkatnya ke jenjang popularitas dengan filem Suci Sang Primadona di tahun 1977. Ia pernah tergabung dalam kelompok Lingkaran Drama Rendra pimpinan W.S. Rendra. Kemudian menulis dan menyutradarai lakon-lakonnya sendiri seperti Kapai Kapai, Tengul, Madekur dan Tarkeni, Umang-Umang dan Sandek Pemuda Pekerja. Pada tahun1968, ia mendirikan Teater Ketjil yang mementaskan cerita, dongeng dengan tema orang-orang yang terempas, pencopet, pelacur, orang-orang kolong, dan sebagainya.

Karirnya dalam filem dimulai dengan filem Pemberang, yang mendapat penghargaan skenario terbaik Festival Filem Asia 1972. Ia kembali mendapat penghargaan penulis skenario terbaik melalui filem Rio Anakku dan Melawan Badai dalam Festival Filem Indonesia 1978. Ia memulai menggunakan kamera ketika Wim Umboh membuat filem Kugapai Cintamu, 1976. Filem perdananya Suci Sang Primadona (1977) melahirkan pendatang baru Joice Erna, yang memenangkan Piala Citra sebagai Aktris Terbaik FFI 1978. Kemudian ia secara produktif menyutradarai beberapa filem seperti Petualang-Petualang, Harmonikaku, Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa, dan Matahari-Matahari. Belakangan,  Serangan Fajar mendapatkan penghargaan Piala Citra sebagai filem terbaik Festival Filem Indonesia 1982. Filem Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984) adalah karyanya yang paling kontroversial dan merupakan filem terlaris karena mobilisasi penonton oleh pemerintah Orde Baru. Lewat filem ini, Arifin meraih Piala Citra sebagai penulis skenario terbaik 1985. Kemudian pada tahun1989, ia menyutradarai Djakarta. Setahun kemudian filemnya Taksi terpilih sebagai filem terbaik dan meraih enam Piala Citra Festival Filem Indonesia. Pada tahun 1991, ia menyutradarai filem Bibir Mer. Pada tahun 1992 ia menyutradarai filem terakhirnya Tasi Oh Tasi. Arifin C. Noer meninggal pada 23 Mei 1995 di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ia meninggal karena saki kanker hati dan lever.

 

Beberapa penghargaan yang diraih Arifin C. Noer:

Naskah Mega-Mega mendapatkan hadiah sebagai lakon sandiwara terbaik dari Badan Pembina Teater  Nasional Indonesia (1967)Anugrah Seni dari pemerintah RI (1971).
Pemberang
memenangkan hadiah Golden Harvest FFA 1972.
Piala Citra untuk filem Rio Anakku (FFI 1973), Melawan Badai (FFI 1974), Serangan Fajar (FFI 1982), Pengkhianatan G-30-S/PKI (FFI 1984), Taksi (FFI 1990).
Sea Write Award dari Kerajaan Thailand 1990.

Recommended Posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Start typing and press Enter to search