logo


Kronik

Beberapa tahun yang lalu rasanya tidak ada orang Eropa yang akan percaya bahwa anak Indonesia akan dapat melukis secara yang diperlihatkan oleh pelukis anak Indonesia zaman itu. Te
Seorang artis filem harus mempunyai kesabaran yang besar sekali, yaitu terus tahan berjam-jam direpetitie(diulang-ulang), sebelum diopname(direkam)
Sebab apabila masyarakat Indonesia tidak dapat melihat filem-filem yang terpilih itu, maka berartilah itu suatu kekurangan usaha di dalam memperkenalkan kepadanya segala buah usaha
Produksi filem Indonesia harus dapat dinikmati, baik oleh Pak Dul penjual oncom atau Mas Hasan directeur N.V atau Mbak Sri anggota parlemen maupun Bung Menteri juga yang dimuliakan
Ya, karena mengambil Bali sebagi objek nyatanya lebih didorong oleh pertimbangan komersil daripada oleh hasrat ingin mengemukakan hal-hal daerah
Tiar ingin melihat kawan-kawannya berjuang tidak hanya untuk kepentingan kita bersama. Kolektif dalam daya upaya, untuk kemajuan kebudayaan menjadi pengangan Tiar dalam mengerjakan
Semoga saja yang dikerjakan adalah filem. Dan bukan seperti senda-gurau orang banyak : Yang dibikin filem tapi jadinya tempe
Banyak produser filem lahir, bahkan yang sama sekali tidak mempunyai latar belakang pengalaman di bidang filem. Pedagang tekstil misalnya beralih ke produksi filem
Binggawattee mengatakan bahwa rakyat kecil makin hari semakin film minded, sudah pandai membedakan yang kurang buruk dengan yang buruk alias lebih tepat mempergunakan uang karcis b
Sesungguhnya, pada hemat saya para sineas Indonesia yang sekarang bekerja di Jakarta belum menemukan jalan yang sebenarnya serta bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.
Keterlibatan kaum terpelajar dalam dunia filem Indonesia sangat diperlukan bila mutu filem Indonesia diharapkan lebih baik daripada saat ini. Dari awal, filem Indonesia tidak perna
Dalam tempo sekitar sepuluh tahun, dijamin filem berwarna akan rusak gambarnya kalau tidak disimpan secara memadai. Copy terakhir filem Asrul Sani “Apa yang Kau Cari Palupi?”, peme