In Artikel
[tab] [tab_item title=”ID”] Sekitar dua tahun lalu, kami berkesempatan mampir ke rumah Bapak Misbach untuk kedua kalinya. Waktu itu kesehatannya memang terlihat sudah menurun. Dipertegas ketika beliau mengatakan pada kami, “…tanya apa saja, mumpung orangnya belum meninggal!” Namun, kami tidak bertanya banyak soal sejarah filem Indonesia dan hanya menanyakan sebuah hal, “apakah Bapak sempat menonton Bicycle Thieves [Vittorio de Sica, 1948] di bioskop?” Beliau menjawab, “pernah.” Dan menerangkan bahwa ia sempat menonton filem itu di bioskop Rangkas [Rangkasbitung] sekitar tahun 1949.[i]

Misbach Yusa Biran

Misbach Yusa Biran

Pertanyaan kami ini sebenarnya berasal dari tulisan Rosihan Anwar yang dibacanya pada retrospeksi filem Darah dan Doa [Usmar Ismail, 1951] tahun 1986. Dalam tulisan tersebut, filem Darah dan Doa disandingkan dengan filem-filem Neorealisme Italia yang menggunakan aktor non-profesional.[ii]

Jawaban Pak Misbach tersebut tentu cukup berarti buat kami untuk melihat sejauh mana pengaruh-pengaruh filem Neorealisme Italia dalam sejarah filem Indonesia, khususnya karya Usmar Ismail. Sebab, memang belum ada arsip tulisan yang fokus memperbincangkan pengaruh Neorealisme Italia pada karya-karya sutradara kita di periode 50-60an. Namun, apakah benar-benar ada pengaruh besar filem Neorealisme Italia pada karya Darah dan Doa? Sementara kita, di hari ini, telah kehilangan Misbach Yusa Biran yang bukan sebagai pengarsip filem, melainkan sebagai arsip dalam ‘kesaksian filemis’nya.

Misbach Yusa Biran sendiri menganggap bahwa Darah dan Doa adalah penanda pertama sejarah filem Indonesia. Ia bahkan menetapkan judul untuk buku sejarah kelahiran produksi filem pada masa Hindia Belanda —sejak karya Loetoeng Kasaroeng [G. Kruger dan L. Heuveldorp, 1926]– dengan judul “Sejarah Film (1900-1950), Bikin Film di Jawa” [terbitan Komunitas Bambu, 2009]. Pemilihan kata ‘Jawa’ merupakan hasil pembacaan Misbach Yusa Biran terhadap arsip, yang menganggap produksi filem pada periode sejak Hindia Belanda hingga pasca kemerdekaan tahun 1950-an adalah produksi filem yang dilandasi semangat hiburan semata, dan diproduksi oleh badan usaha non-pribumi. Baru pada kelahiran Darah dan Doa karya Usmar Ismail lah, Misbach menganggapnya sebagai sebuah tonggak awal filem Indonesia karena bertema “kebangsaan” dan berbadan usaha kaum pribumi.

Darah dan Doa (1950) oleh Usmar Ismail

Darah dan Doa (1950) oleh Usmar Ismail

Sejarah Filem; Sejarah Estetika dan Sejarah Sosial Politik

Tentu masih banyak jarak dalam membaca sejarah filem Indonesia karena keterbatasan bahan baku arsip yang tersedia. Jarak yang paling cukup terasa adalah ketika membaca sejarah filem Indonesia pasca kemerdekaan yang melulu berbicara di seputar karya Usmar Ismail. Sebagai sebuah pembacaan sejarah, sejarah filem Indonesia pasca kemerdekaan menjadi tidak sepandan dengan sejarah sastra atau sejarah seni rupa Indonesia yang memang banyak dipengaruhi pergulatan dua ideologi yang subur kala itu. Dalam konteks tersebut, membaca sejarah filem Indonesia pasca kemerdekaan pada karya Usmar Ismail, menjadi agak sulit jika disandarkan pada latar sosial politik.

Kita mengenal sejarah sosial politik Indonesia pasca kemerdekaan sampai dengan tahun 1965-an sebagai sejarah pergulatan dualisme politik. Bayang-bayang dualisme ideologi politik pada saat itu juga masih melekat pada sejarah kebudayaan. Di antara arsip filem yang tersedia di Sinematek Indonesia, ada satu latar entitas sosial politik yang tidak tersimpan di lembaga arsip filem tersebut. Karya tersebut adalah karya-karya para sutradara yang berlatar organisasi Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Salah satunya ialah Bachtiar Siagian, seorang sutradara yang memiliki penanda politik yang cukup penting yang berasal dari Lekra. Dalam literatur kekiniaan berbahasa Indonesia, sutradara Bachtiar Siagian sempat diulas oleh Krishna Sen dalam “Kuasa dalam Sinema: Negara, Masyarakat dan Sinema Orde Baru” (Penerbit Ombak, 2009). Namun, ulasan Krishna Sen terhadap karya Bachtiar Siagian hanya sebatas ulasan berdasarkan skenario. Sampai hari ini, generasi kita pun belum bisa menonton filem Bachtiar Siagian. Tentunya, membaca sejarah filem Indonesia pasca kemerdekaan akan terasa pincang tanpa membaca karya Bachtiar Siagian.[iii]

Bachtiar Siagian

Bachtiar Siagian

Namun, sejarah Sinema Indonesia yang ada selama ini memang tidak jauh dari “bayang-bayang sejarah politik” yang berlangsung. Bisa jadi, nasib yang sama juga diperlihatkan oleh pembacaan sejarah seni di Indonesia yang lain pada situasi pasca kemerdekaan. Mengusulkan karya Bachtiar Siagian sebagai bagian dari pembacaan sejarah filem Indonesia, sebenarnya, belum tentu juga menjamin kesejajaran sejarah dua ideologi yang bertarung dalam sejarah politik Indonesia pasca kemerdekaan kala itu. Menurut keterangan Misbach Yusa Biran, filem-filem Bachtiar Siagian sendiri sebenarnya tidak menggambarkan ideologi Lekra (Realisme Sosialis) secara konsisten.[iv] Bidang seni lainnya, seperti seni rupa, bisa jadi juga tidak luput dari anggapan-anggapan ideologi politik yang melatari produk estetiknya. Seperti yang pernah diungkapkan Misbach dalam membaca filem Bachtiar Siagian, bahwa perihal estetika dan perihal latar ideologi politik bukanlah sesuatu yang ‘konstitutif’. Begitu pentingnya Misbach Yusa Biran, yang bukan saja sebagai saksi hidup dalam melihat perkembangan sejarah filem Indonesia pasca kemerdekaan, tetapi endapan-endapan pengalaman filemis beliau dalam membaca filem Indonesia di masa lampau juga menjadi khasanah sejarah filem yang tidak lagi berada di bawah bayang-bayang sejarah sosial politik Indonesia pasca kemerdekaan.

Ada yang khas dalam melihat jalan seni dan estetika, khususnya filem-filem di Indonesia, dimana estetika filem belum tentu memiliki korelasi pijakan latar ideologi politiknya. Seakan-akan, terdapat suatu kebutuhan untuk memisahkan sejarah filem secara mandiri dari sejarah sosial politiknya. Ini bisa berdampak pada pelepasan konteks kelahiran filem dari sejarah sosial politiknya agar kemandirian sejarah filem bisa tercapai. Namun demikian, hal ini yang sekiranya belum dilakukan pada pembacaan filem Indonesia di masa lalu: Estetika filem sendiri sebenarnya adalah materialisasi endapan dan pengalaman ‘kedisanaan’ di masa lalu secara visuil. Filem sebagai materialisasi kesaksian sinematografis, selalu mengalami ‘kemenjadian’ karena kodratnya yang ‘bergerak’ pada gambar-gambar. Bisa jadi, kesaksian sinematografi jauh lebih akurat ketimbang sejarah sosial politik Indonesia secara tekstual yang terkadang cenderung terjebak pada ranah-ranah penanda yang ‘terhafal.

Dokumenter sebagai Siasat Menjangkau Realitas-realitas Subtil di Masa Lalu

Filem dokumenter “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)” tidak saja dimaknai sekedar sebagai perbincangan ‘tentang arsip’. Memaknai filem dokumenter sebagai sinema, sebenarnya bisa membawa kita pada pemaknaan ‘filem sebagai arsip itu sendiri’. Kesaksian sinematografis pada dokumenter memiliki kemampuan untuk menjangkau wilayah-wilayah imajinatif dari keperistiwaaan yang berlangsung. Bahkan, daya imajinasi yang dibangun melalui kemampuan sinematografi itu bisa mencapai wilayah-wilayah subtil dari realitas dan pengalaman manusia.

Di tengah-tengah situasi sejarah filem Indonesia yang lemah akan bahan baku arsip dan dokumentasi sejarah, karya dokumenter diharapkan mampu menjadi jembatan dalam membaca masa lalu. Jembatan tersebut, tentu, adalah imaginasi-imaginasi dari kemampuan estetis dokumenter dalam menjangkau perihal-perihal subtil dalam melihat masa lalu tersebut. Pada filem dokumenter “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)”, mungkin kita bisa sedikit melihat Misbach Yusa Biran sebagai “pengalaman” filemis di masa lalu, melalui kesaksian-kesaksian sinematografis, sebagai jembatan kelangkaan arsip yang tersedia hari ini.

Adegan akhir “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)”, karya kolaborasi komunitas Forum Lenteng ini, adalah ‘horor-horor’ tentang pengarsipan filem di Indonesia, yang mengalami perlakuan yang kurang memadai. Sebagai sebuah sistem pernyataan yang berlaku di masa lalu, arsip menjadi bagian yang begitu penting untuk membaca masa kini dan bahkan masa depan. Dalam konteks arsip filem, dokumen tersebut bisa jadi adalah ‘sejarah’ yang hidup, karena bersifat ‘gambar bergerak’, sehingga yang oleh kritisi Andre Bazin dianggap sebagai sesuatu yang ‘sentrifugal’ antara bingkai layar dan kehidupan sesungguhnya yang berlangsung. Arsip filem bukan saja ‘eksotisme’ realisme di masa lalu yang cenderung ‘membekukan waktu’, tetapi lebih sebagai usaha menghindari kematian spiritual manusia tentang ‘Ada’.

Anak Sabiran, Dibalik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip), 2013 


[i] Wawancara pada tanggal 11 Oktober 2011.

[ii] Pengantar pada pertunjukan film retrospektif Usmar Ismail di FFI 1986 : Darah dan doa (Long march Siliwangi), 29 Juli 1986.

[iii] Terdapat satu filem Bachtiar Siagian, berjudul Violetta (1962), yang tersimpan di Sinematek Indonesia.

[iv] Filem Dokumenter, “Anak Sabiran, di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)”, Forum Lenteng, 2013.
[/tab_item] [tab_item title=”EN”] (Temporarily available only in Bahasa Indonesia)
[/tab_item] [/tab]

Recommended Posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Start typing and press Enter to search